Malam
ini Satnite, begitu remaja sekarang bilang. Malam minggu, malam bercumbu kasih,
malam pengabdian bagi sebagian orang. Malam minggu malam yang sama dengan malam
– malam lainnya. Cinta sepertinya enggan berkunjung ke lubuk hatiku, setelah
terakhir aku memutuskan untuk sendiri. Entahlah, cinta yang salah atau aku yang
salah kaprah. Di Bogor ini malam minggu selalu basah karena memang ini kota
yang basah di Indonesia. Sepertinya air hujan sudah menjadi kawan setia kota
ini. Dia si hujan yang setia, tak kenal senja tak kenal pagi atau satnite. Dia
setia. Seperti setianya jingga pada senja, dan gelap pada malam. Kesetiaan yang
abadi.
...ini bukan tentang bagaimana cara kita mendayung atau bagaimana menghindar dari badai. Ini tentang hidup yang dapat kita ciptakan sendiri dengan merangkai imajinasi - imajinasi seru dalam otak kita. tentang bagaimana imajinasi itu menjadi nyata, tentang bagaimana kenyataan itu di dapatkan, dan ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan...ini tentang saya, kamu dan mereka...
Jumat, 29 Januari 2016
...coklat, dari kaka untuk adiknya yang coklat....
Coklat,
Kulitku yang coklat.
Coklat yang coklat dan manis.
Dalam hidupku tidak ada coklat terbaik
di dunia ini selain coklat yang aku dapat dari susah payahnya kakak perempuanku
menyisipkan uang jajan, yang hanya cukup untuk membeli dua buah coklat saja, yang salah satunya dia beli untukku. Saban pagi hanya demi membujukku mandi, atau membujukku keramas, dia menjanjikan coklat terbaik yang akan dia bawa saat dia pulang sekolah nanti. Dan aku tergiur dengan bujukkannya itu. Menanglah dia, memandikanku dan mengkramasiku sampai aku teriak-teriak karena dingin. Itulah coklat terbaik!!!.
Coklat yang dibalut kasih sayang dan
kesabaran, rasanya luar biasa nikmat. Manis sedikit pahit ciri khas coklat
terbaik dunia. Bagiku saat itu, saat usiaku belum genap di angka 6, hariku
sangat indah. Saat teman-teman sebayaku tidak bisa makan coklat di siang hari,
aku bisa makan coklat dengan lahap. Aku hafal betul jadwal kakak perempuanku
pulang, dengan rok warna birunya dan tas nya yang sudah kumal, dia tampak
cantik. Aku nantikan kedatangannya di ujung jalan gank menuju ke rumahku. Dari
kejauhan dia sudah tersenyum, aku menanti coklat.
Kadang coklat itu lumer di bungkusnya karena terik mentari siang yang memanggang kakaku di sepanjang jalan menuju rumah. Dia adalah atlit jalan santai terbaik saat itu, karena setiap dia harus beli coklat untukku atau harus membeli buku LKS baru, maka uang yang harusnya untuk bayar angkot dia simpan. Dan dia rela kakinya yang halus berubah gosong kering dan keras macam pemain bola, jalan kaki sejauh 5 km. Itulah perjuangan demi sebuah coklat yang dia beli untuk adiknya yang coklat.
Kadang coklat itu lumer di bungkusnya karena terik mentari siang yang memanggang kakaku di sepanjang jalan menuju rumah. Dia adalah atlit jalan santai terbaik saat itu, karena setiap dia harus beli coklat untukku atau harus membeli buku LKS baru, maka uang yang harusnya untuk bayar angkot dia simpan. Dan dia rela kakinya yang halus berubah gosong kering dan keras macam pemain bola, jalan kaki sejauh 5 km. Itulah perjuangan demi sebuah coklat yang dia beli untuk adiknya yang coklat.
Aku girang bukan kebayang
mendapatkan coklat berbungkus kertas warna merah dan putih, bertuliskan Coklat
Cap Jago.
Sampai saat ini aku bilang itu coklat
terbaik yang dimiliki bangsa ini.
...mozaik perahu kayu...
...entah
dari mana aku harus memulai, seperti ada sebuah tekanan di bagian
dadaku...mungkin rasa lelah atau mungkin sebuah rasa lain yang harus aku
pertanyakan pada diriku sendiri.
...ada
rasa dimana aku benar benar ingin menangis, ketika aku mencoba mengenang sebuah
susunan mozaik hidup yang telah aku temukan, bahkan tak jelas akan menjadi
gambar apa...
...diotakku
berputar bahkan berebut tempat susunan kata yang ingin keluar untuk aku
curahkan disini, seperti tentang cinta yang tak kunjung jelas, tentang hidup
yang samar dan tak nampak, tentang segala perasaan yang begitu besar, bahkan
mimpipun enggan tak peduli pada perebutan itu...mimpi tentang orang asing, sorebone,
musim dingin, semi, gugur...bahkan ketika aku tak tahu akan dengan siapa aku
melalui semua itu masih samar dalam hidupku...
...lagi
– lagi itulah hidup kawan, tidak akan pernah ada yang merasa puas, dan aku akan
tetap haus, haus, haus dan haus...
...aku
haus pada jilatan-jilatan apik para fropesor, aku haus pada rangkaian-rangkaian
cerdik para guru besar yang terangkum indah, aku haus pada berjuta – juta mimpi
yang kadang berlari gesit untuk menghindar ketika aku akan menangkapnya, dan
aku haus pada pengalaman dalam menemukan mozaik kehidupan...
...berkumpulah
mimpi, bersiaplah berlari karena aku akan siap mengejar lebih cepat, lebih cepat,
lebih cepat dari gerakanmu...
Selasa, 29 April 2014
...si mata kayu, ibu...
Aku tegang luar
biasa, tegang yang teramat. Karena semua dari garis keturunan abahku tidak
pernah merasakan hal ini. Aku beruntung disatu sisi. Tapi bingung disisi – sisi
lainnya. Tak ada yang bisa ditanya bagaimana, harus seperti apa, tidak ada
keluarga yang bisa ikut sibuk mempersiapkan hari bersejarah itu. Tapi aku
yakin, mamah merasakannya, beliau selalu bertanya dengan basa Sunda dan aksen
yang khas.
“De lamun tos
sidang teh teras kumaha?.”(Nak kalo sudah sidah terus ngapain?)
Aku tersenyum.
“nya lulus, kantun wisuda!” (ya lulus, terus wisuda)
“ooohh...alhamdulillah
atuh, iraha sidangna?” (Alhamdulillah ya, kapan sidangnya?)
Aku tersenyum.
“enjing. Matakna abdi nyetrika almamater.” (besok.makanya saya setrika almamater)
“jam sabaraha?.
Isuk keneh?.mamah nyangu subuh atuhnya.” (jam berapa?. pagi banget?. mamah masak nasi subuh ya.)
Aku tersenyum “tenang we da abdi berangkat jam set 7 an.” (santai aja mah, saya berangkat jam 7 an)
Aku tahu mamah
tak mengerti bagaimana itu sidang, seperti apa, bagaimana tegangnya, dan apa
yang harus dipersiapkan. Yang beliau lakukan adalah mendo’akan yang terbaik,
dan meyakinkan anaknya tidak kelaparan saat sidang. Dan itu membuat aku tahu
arti ikhlas sebenarnya. Tidak perlu memaksakan yang tidak kita kuasai, lakukan
yang terbaik yang bisa kita lakukan, itu jauh lebih penting.
Dan tadi pagi
semua do’anya di kabul Alloh. Dia, Tuhan yang selalu mendengar keluh kesahku,
dan do’a ibuku telah menyelamatkanku di samudera ilmu itu. Membuatku yakin pada
ayat-ayat – Nya, meski aku sadar aku hanya hamba biasa yang tidak luput dari
khilaf.
Aku anak ibuku
yang besar dan di didik oleh keterbatasan akan finansial, mampu menyelesaikan
Strata satu hanya dengan do’a dan restu beliau. Dan Dia Tuhan dari segala
Tuhan, yang Maha mendengar Alloh SWT, dengan tangan halusnya menuntunku, dan
selalu mendengar do’a ibuku disetiap ¾ malam, ketika aku yang ada di dalam
do’anya terlelap tidur menikmati panjangnya malam. Dan para pahlawan kehidupan,
sang perahu pembawa perahu, Abangku satu – satunya yang setiap pagi
bercengkrama dengan nasib, tidak pernah letih memanen pundi – pundi rupiah yang
sebagian dia beri untukku. Dan aku sang anak kumal yang dahulu dihina karena
jidatku yang lebar, setiap pagi bergelut dengan buku dan hidup di aroma
organisasi yang ganas. Mozaik hidupku. Indah.
Kamis, 24 April 2014
...selasa...
Kini setiap hari
Selasa adalah hari terpenting dalam sejarah hidup kami, sang perahu penjelajah
samudera ilmu. Karena di hari ini salah satu dari kami akan dinobatkan sebagai
Sarjana Ekonomi, sekelompok orang setiap
minggu setiap hari selasa akan mencetak sejarah baru dalam hidup mereka.
Termasuk aku, si perahu kayu yang sempat akan karam di samudera itu. Tapi kini
aku telah bersandar di pelabuhan, pelabuhan yang luar biasa. Aku sedang
mempersiapkan diri untuk turun dari perahu kayuku. Seminggu yang lalu teman
baikku telah turun dari perahunya dan menjadi yang tercepat dan termuda. Dia
adalah pembuka kunci pintu pertama yang berhasil mendapatkan dua huruf besar S
dan E di belakang namanya. Dan aku bangga melihat itu. Tanpa halangan yang
berarti dia berhasil menyelesaikan studynya. Dan dia baru 20 tahun. Dia lah
Febri Lestari SE. Wanita rajin yang aku kenal.
Seharusnya hari
ini sahabatku pun turun dari perahunya, dan mendapatkan dua huruf itu, namun
malang cuaca pelabuhan sedang buruk sehingga kepala pelabuhan memutuskan untuk
memundurkan jadwal menjadi minggu depan di hari yang sama tanggal 19 Februari
2013. Tanggal yang sama dimana aku akan turun dari perahuku.
Tuesday, 19 Februari 2013
Aku tegang luar
biasa, tegang yang teramat. Karena semua dari garis keturunan abahku tidak
pernah merasakan hal ini. Aku beruntung disatu sisi. Tapi bingung disisi – sisi
lainnya. Tak ada yang bisa ditanya bagaimana, harus seperti apa, tidak ada
keluarga yang bisa ikut sibuk mempersiapkan hari bersejarah itu. Tapi aku
yakin, mamah merasakannya, beliau selalu bertanya dengan basa Sunda dan aksen
yang khas.
“De lamun tos
sidang teh teras kumaha?.”
Aku tersenyum.
“nya lulus, kantun wisuda!”
“ooohh...alhamdulillah
atuh, iraha sidangna?”.
Aku tersenyum.
“enjing. Matakna abdi nyetrika almamater.”
“jam sabaraha?.
Isuk keneh?.mamah nyangu subuh atuhnya.”
Aku menangis
dalam hati “tenang we da abdi berangkat jam set 7 an.”
Aku tahu mamah
tak mengerti bagaimana itu sidang, seperti apa, bagaimana tegangnya, dan apa
yang harus dipersiapkan. Yang beliau lakukan adalah mendo’akan yang terbaik,
dan meyakinkan anaknya tidak kelaparan saat sidang. Dan itu membuat aku tahu
arti ikhlas sebenarnya. Tidak perlu memaksakan yang tidak kita kuasai, lakukan
yang terbaik yang bisa kita lakukan, itu jauh lebih penting.
Dan tadi pagi
semua do’anya di kabul Alloh. Dia, Tuhan yang selalu mendengar keluh kesahku,
dan do’a ibuku telah menyelamatkanku di samudera ilmu itu. Membuatku yakin pada
ayat-ayat – Nya, meski aku sadar aku hanya hamba biasa yang tidak luput dari
khilaf.
Aku anak ibuku
yang besar dan di didik oleh ketidak mampuan akan finansial, mampu menyelesaikan
Strata satu hanya dengan do’a dan restu beliau. Dan Dia Tuhan dari segala
Tuhan, yang Maha mendengar Alloh SWT, dengan tangan halusnya menuntunku, dan
selalu mendengar do’a ibuku disetiap ¾ malam, ketika aku yang ada di dalam
do’anya terlelap tidur menikmati panjangnya malam. Dan para pahlawan kehidupan,
sang perahu pembawa perahu, Abangku satu – satunya yang setiap pagi
bercengkrama dengan nasib, tidak pernah letih memanen pundi – pundi rupiah yang
sebagian dia beri untukku. Dan aku sang anak kumal yang dahulu dihina karena
jidatku yang lebar, setiap pagi bergelut dengan buku dan hidup di aroma
organisasi yang ganas. Mozaik hidupku. Indah.
Sabtu, 07 September 2013
...kayu PERTAMA perahu kayuku...
23 tahun silam, aku baru saja
menghirup O2 yang katanya cuma senyawa itu yang bisa membuat manusia hidup. Aku
si anak paling bontot dari 3 bersaudara memulai cerita hidupnya dari tanggal 29
Sepetember 1989 hari Jum’at pukul 03:05 dini hari. Aku adalah anak sang fajar,
yang bersentuhan dengan embun tanggal 29 September ‘89. Aku adalah anak sang pemimpi
yang terlahir tanpa seprai baru, tanpa baju baru, dan tanpa gendongan bayi
baru. Semuanya bekas kakak-kakakku. Aku adalah anak sang pujangga yang
karenanya aku menangis dengan nada yang begitu merdu. Aku adalah anak sang
kaisar. Mulai memimpin perang saat pertama kali dilahirkan. Aku adalah anak
pembawa perubahan yang karena egoku aku berhasil menyentuh emas tertinggi
harapan keluarga. Aku adalah anak sang dewa,yang karenanya aku ditugaskan untuk
menemukan sang dewi. Aku adalah aku, yang bajibaku dengan segala harapan. 23
tahun aku membuat sejarah, aku membuat cerita dan entah bagaimana akhirnya. Aku
kumpulkan mozaik-mozaik kehidupan, yang entah akan menjadi seperti apa.
Sepeda kecil pertamaku. Sabun mandi
kesukaanku. Shampoo, sikat, pasta, dan bedak kesukaanku. Pengalaman pertamaku
naik komedi putar. Kesedihanku saat aku telat daftar TK favorit di kampungku.
Baju lebaranku. Seragam sekolah dasar pertamaku. Buku pertamaku. Pensil, tas,
sepatu, dasi merah, topi, dan sebuah semangat yang menggebu pertamaku. Teman
sebangku pertamaku, guru pertamaku, tulisan pertamaku, dan sebuah sekolah dasar
pertamaku, yang kini menjadi sekolah dasar pertamanya bagi keponakanku, dan
bakal calon sekolah dasar bagi keponakanku berikutnya. Prestasi pertamaku,
rangking pertama pertamaku. Dan jatuh cinta pertamaku. Cinta monyet pertamaku.
Aku masih ingat semuanya. Aku masih ingat bayangan bahagia di mukaku saat
pertama-pertamaku.
Rabu, 24 Juli 2013
elegi PERAHU KAYU
Hhhmmmm...aku
tidak sabar menunggu hari dimana aku di nobatkan sebagai sarjana, hari dimana
hasil penelitianku diujikan dan aku dikukuhkan telah selesai menempuh
pendidikan S1-ku. 3 tahun 4 bulan yang lalu aku masih bisa melihat diriku
berdiri di depan sebuah papan npengumuman hasil tes masuk perguruan tinggi itu.
Aku yang menggunakan pakaian seadanya. Hasil keringatku selama 9 bulan menjadi
buruh di salah satu perusahaan otomotif besar di Indonesia. Hasil menahan nafsu
untuk tidak membeli handphone keluaran terbaru seperti yang teman sekost-ku
beli. Menahan diri untuk tidak membeli baju dengan merk yang sedang booming
pada waktu itu. Atau menahan diri untuk tidak menggunakan gaji-gajiku untuk DP
motor yang aku inginkan. Aku tukar semua nafsu itu demi dua buah huruf S dan E
yang dari kecil sering aku mimpikan. Yang selalu hadir dalam setiap malamku,
dan malam-malam terakhir dalam masa kerjaku sebagai buruh kontrak. Dan akupun
tidak tahu akan ada berapa gunungan rupiah jika dua huruf itu telah aku
dapatkan.
Guru agamaku
dulu pernah menerangkan sebuah surat di Al-Qur’an yang artinya “Alloh akan
menikan beberapa derajat orang yang berilmu...”
Dan itu yang
membuat semangatku tidak pernah padam, semangat itu menjadi api yang melontar –
lontar ketika aku baca dalam surah Yassin “...kunfayakun”, ketika Alloh
kehendaki maka jadilah. Maka apa yang harus aku takutkan?, walaupun aku tidak
bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku saat itu benar – benar takut, aku
takut aku tidak bisa menuntaskan pendidikanku, karena biayanya yang tidak
sedikit.
Dengan begitu
yakin aku kembangkan layar pada perahuku, perahu yang akan mengarungi luas
samudra ilmu, yang aku sendiri tidak pernah tahu seluas apa, dan akan berlabuh
dimana. Perahuku terseok – seok, hampir karam. Hampir tenggelam. Bocor disana
sini, pahatan kayunya tidak kuat menabrak karang es, saat perahu yang lain
dengan gagahnya menghancurkan karang-karang itu, bahkan mampu meruntuhkan
gunung es sekalipun. Perahu kayuku yang malang ini harus dengan kuat menahan
gelombang. Menghantam badai, dan bahkan terombang-ambing tak tentu arah. Aku
punya niat yang baik, dan tentunya perahu-perahu yang lain tidak pernah menutup
mata, saat perahuku akan tenggelam, sebuah kayu yang kuat dari perahu lain
dilemparkan padaku. Dengan lantang orang di perahu itu berkata,
“Gunakan kayu
itu untuk menambalnya, kayu itu terlalu basah untuk di bakar diperapian
kamarku.”
Sungguh jika
kayu ini tidak berguna baginya, ini sangat bermanfaat untukku. Kemudian perahu
yang lain yang sama besar dengan perahu yang tadi melakukan hal yang sama,
mereka melemparkan kayu-kayu yang tidak mereka gunakan ke arahku. Aku dibuatnya
tersenyum, tersenyum bangga, bangga pada mereka,bintang - bintang yang kadang
tak ada yang tahu.
Perahuku mulai
berlayar kembali, meski penuh rasa was – was. Rasa takut yang semakin besar,
karena aku tahu akan ada banyak karang es yang lebih besar bahkan gunung gunung es yang mau tidak mau harus aku
robohkan. Tapi apakah kuat perahu kecilku ini?. Apa aku harus menghentikan
pelayaranku? Aku telah tertinggal jauh, jauh sekali. Persediaanku menipis,
bahkan sangat tipis. Aku harus mengorbankan moment-moment penting dalam
perlayaranku, pesta tengah laut, lomba memancing, bahkan aku sempat tidak
mengikuti ujian nahkoda sehingga nilaiku anjlok dari ujian sebelumnya.
Tapi sekali
lagi, niatku baik. Aku ingin mencetak sejarah di keluargaku, sebagai orang
pertama yang berhasil berlayar di tengah ganasnya samudera ilmu. Di tengah
luasnya samudera itu, tajamnya karang-karang es, dan tingginya gunung-gunung es
itu. Aku ingin jadi yang pertama. Aku ingin menjadi contoh bagi keturunan-keturunanku,
keturunan sodara-sodaraku kelak. Aku ingin derajat keluarga ini ditinggikan di
mata Alloh.
Maka ketika aku
tertinggal, aku mendengar suara mesin dikejauhan dari sebuah perahu. Masih
terbuat dari kayu, kayu yang sama seperti perahuku. Tapi perahu itu telah
memiliki mesin, dan ukurannya lebih besar, garis-garis urat di kayunya, dan
kerutan-kerutan dikeningnya menandakan betapa pengalaman hidup telah ia lalui.
Dahulu ketika perahu itu tidak bermesin, dia sempat ingin berlayar dengan
perahunya di samudera yang sama. Samudera yang sedang aku jelajahi, tapi dia
urung. Atau mungkin dia takut, atau mungkin dia was-was, atau mungkin dia tahu,
bahwa ada aku yang harus dia antar sampai muara ilmu. Perahu itu dahulu hanya
berhasil berlayar sampai muara.
Aku terdiam
sejanak, mencoba mendengarkan dengan seksama suara perahu itu, apa benar
dirinya. Aku lihat kebelakang, aku mencoba menerawang, tapi sayang kabut
terlalu tebal untuk aku melihat dengan jelas. Hingga akhirnya moncong perahunya
mendekati perahuku. Ternyata benar, itu adalah suara mesin perahunya. Mesin
yang tua, tetapi begitu kuat. Dahulu kayu – kayu untuk membuat perahuku di
derek oleh perahu bermesin itu, di derek dari hulu ke hilir, hingga aku sampai
di muara.
“apa gerangan
yang membuatmu datang padaku?” tanyaku padanya.
“kita ini
saudara, aku mendengar kabar burung, perahu yang kau buat dari hasil keringatmu
itu hampir karam karena tak kuat menghadang karang es. Bagaimana kau ini,
karang es saja tak becus kau hancurkan, apalagi gunung es?.mau mati membeku
kau?” jawabnya ketus.
Aku terdiam.
Tertunduk malu.
Aku diam bukan
karena ku tak sanggup menjawab. Tapi aku sadar bahwa aku tak becus.
“sekarang kemana
perahu yang lain?.kau tertinggal. Kau ini berlayar hanya mengandalkan layar dan
arah angin, tak tampakkah olehmu, mereka berlayar dengan menggunakan mesin?.
Tak tampak kah olehmu perahu mereka terbuat dari baja yang kuat?. Mereka tak
hanya mampu menghancurkan karang, gunung es bagi mereka tak lebih dari tumpukan
jerami.” Dia mendakwaku.
Aku terdiam, bahkan
hampir membeku.
“kembalilah ke
muara, dan mulai menanam pohon agar kau bisa membuat perahu yang lebih besar
kelak. Ayo aku derek perahumu sampai ke muara.” Lanjutnya padaku.
Aku terdiam, dan
mundur satu langkah dari tempat aku berdiri di perahuku.
“tidak!!”
“kau ini keras
kepala, mau mati membeku disini?.mengorbankan masa depanmu pada samudera yang
tidak beradab ini?.kita orang biasa yang tidak mampu membuat perahu dari baja,
yang tidak mampu membeli mesin dengan kecepatan tenaga kuda, bukalah matamu.”
Lanjutnya semakin membuatku yakin, bahwa aku bisa.
“kita bisa!!!.
Asal kita mau berusaha.” Aku bersikukuh.
“aahhh...sudahlah.
percuma aku peduli padamu. Kau tetaplah kau yang keras kepala. Mati saja kau
membeku di samudera ini.” Dia menghidupkan mesin perahunya,
Aku menitikan
air mata di atas perahuku yang telah terisi air laut hampir seperempatnya, dan
sekarang bertambah banyak dengan air mataku. “kunfayakun” hatiku berbisik.
Luasnya langit
seluas samudera ini, dan aku yakin ada banyak orang yang mati di samudera ini,
hanya karena perahu mereka tak cukup kuat dan besar untuk mengalahkan ganasnya
sang samudera ilmu. Dan aku tidak sudi
jadi bagian dari mereka.
Perahunya mulai
menjauh dari perahuku. Dia saudaraku meninggalkanku begitu saja. Meninggalkan
sodara lelakinya dalam keterpurukan.
Tak lama sebuah
perahu bermesin tak bernahkoda menabrak perahu kecilku. Aku terkaget, karena
tabrakannya membuat perahu kayuku retak dan air laut semakin deras masuk hendak
menenggelamkan perahu kecilku.
“PERGUNAKANLAH
PERAHU ITU BAIK-BAIK!!!, ITU ADALAH PERAHU KAYU YANG AKU BUAT DARI POHON YANG
AKU TANAM BERTAHUN-TAHUN, ADA PERBEKALAN DAN BERMESIN PULA. JIKA KAU SUDAH
BERLABUH KELAK, KABARILAH ABANGMU INI!!. DAN JANGAN LUPA BAWAKAN BIBIT TERBAIK
POHON KAYU SEBAGAI PENGGANTI POHON YANG AKU TEBANG UNTUK PERAHU ITU. HATI-HATI,
SAMUDERA LEBIH GANAS DARI MUARA!!!.AKU PERCAYA PADAMU!!”
Suara yang
lantang itu terdengar dari kejauhan, dan itu suara saudaraku yang tadi. Abangku
sendiri.
“TERIMAKASIH
BANG!!. KAU TAK SEKERAS YANG AKU LIHAT, TAK AKAN LUPA AKU PADA BIBIT YANG KAU
PESAN, AKAN AKU BAWAKAN BIBIT TERBAIK POHON KAYU YANG ADA DI DUNIA INI. ITU
JANJIKU!!!”
Aku tahu, aku
tidak pernah sendiri, ada orang – orang kuat dibelakangku. Orang – orang yang
selalu ada, bahkan saat aku merasa sendiri. Keluargaku dan mereka yang sayang
padaku, akan selalu ada disini. Didalam hatiku.
Langganan:
Postingan (Atom)