Rabu, 24 Juli 2013

elegi PERAHU KAYU

Hhhmmmm...aku tidak sabar menunggu hari dimana aku di nobatkan sebagai sarjana, hari dimana hasil penelitianku diujikan dan aku dikukuhkan telah selesai menempuh pendidikan S1-ku. 3 tahun 4 bulan yang lalu aku masih bisa melihat diriku berdiri di depan sebuah papan npengumuman hasil tes masuk perguruan tinggi itu. Aku yang menggunakan pakaian seadanya. Hasil keringatku selama 9 bulan menjadi buruh di salah satu perusahaan otomotif besar di Indonesia. Hasil menahan nafsu untuk tidak membeli handphone keluaran terbaru seperti yang teman sekost-ku beli. Menahan diri untuk tidak membeli baju dengan merk yang sedang booming pada waktu itu. Atau menahan diri untuk tidak menggunakan gaji-gajiku untuk DP motor yang aku inginkan. Aku tukar semua nafsu itu demi dua buah huruf S dan E yang dari kecil sering aku mimpikan. Yang selalu hadir dalam setiap malamku, dan malam-malam terakhir dalam masa kerjaku sebagai buruh kontrak. Dan akupun tidak tahu akan ada berapa gunungan rupiah jika dua huruf itu telah aku dapatkan.
Guru agamaku dulu pernah menerangkan sebuah surat di Al-Qur’an yang artinya “Alloh akan menikan beberapa derajat orang yang berilmu...”
Dan itu yang membuat semangatku tidak pernah padam, semangat itu menjadi api yang melontar – lontar ketika aku baca dalam surah Yassin “...kunfayakun”, ketika Alloh kehendaki maka jadilah. Maka apa yang harus aku takutkan?, walaupun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku saat itu benar – benar takut, aku takut aku tidak bisa menuntaskan pendidikanku, karena biayanya yang tidak sedikit.
Dengan begitu yakin aku kembangkan layar pada perahuku, perahu yang akan mengarungi luas samudra ilmu, yang aku sendiri tidak pernah tahu seluas apa, dan akan berlabuh dimana. Perahuku terseok – seok, hampir karam. Hampir tenggelam. Bocor disana sini, pahatan kayunya tidak kuat menabrak karang es, saat perahu yang lain dengan gagahnya menghancurkan karang-karang itu, bahkan mampu meruntuhkan gunung es sekalipun. Perahu kayuku yang malang ini harus dengan kuat menahan gelombang. Menghantam badai, dan bahkan terombang-ambing tak tentu arah. Aku punya niat yang baik, dan tentunya perahu-perahu yang lain tidak pernah menutup mata, saat perahuku akan tenggelam, sebuah kayu yang kuat dari perahu lain dilemparkan padaku. Dengan lantang orang di perahu itu berkata,
“Gunakan kayu itu untuk menambalnya, kayu itu terlalu basah untuk di bakar diperapian kamarku.”
Sungguh jika kayu ini tidak berguna baginya, ini sangat bermanfaat untukku. Kemudian perahu yang lain yang sama besar dengan perahu yang tadi melakukan hal yang sama, mereka melemparkan kayu-kayu yang tidak mereka gunakan ke arahku. Aku dibuatnya tersenyum, tersenyum bangga, bangga pada mereka,bintang - bintang yang kadang tak ada yang tahu.
Perahuku mulai berlayar kembali, meski penuh rasa was – was. Rasa takut yang semakin besar, karena aku tahu akan ada banyak karang es yang lebih besar bahkan gunung  gunung es yang mau tidak mau harus aku robohkan. Tapi apakah kuat perahu kecilku ini?. Apa aku harus menghentikan pelayaranku? Aku telah tertinggal jauh, jauh sekali. Persediaanku menipis, bahkan sangat tipis. Aku harus mengorbankan moment-moment penting dalam perlayaranku, pesta tengah laut, lomba memancing, bahkan aku sempat tidak mengikuti ujian nahkoda sehingga nilaiku anjlok dari ujian sebelumnya.
Tapi sekali lagi, niatku baik. Aku ingin mencetak sejarah di keluargaku, sebagai orang pertama yang berhasil berlayar di tengah ganasnya samudera ilmu. Di tengah luasnya samudera itu, tajamnya karang-karang es, dan tingginya gunung-gunung es itu. Aku ingin jadi yang pertama. Aku ingin menjadi contoh bagi keturunan-keturunanku, keturunan sodara-sodaraku kelak. Aku ingin derajat keluarga ini ditinggikan di mata Alloh.
Maka ketika aku tertinggal, aku mendengar suara mesin dikejauhan dari sebuah perahu. Masih terbuat dari kayu, kayu yang sama seperti perahuku. Tapi perahu itu telah memiliki mesin, dan ukurannya lebih besar, garis-garis urat di kayunya, dan kerutan-kerutan dikeningnya menandakan betapa pengalaman hidup telah ia lalui. Dahulu ketika perahu itu tidak bermesin, dia sempat ingin berlayar dengan perahunya di samudera yang sama. Samudera yang sedang aku jelajahi, tapi dia urung. Atau mungkin dia takut, atau mungkin dia was-was, atau mungkin dia tahu, bahwa ada aku yang harus dia antar sampai muara ilmu. Perahu itu dahulu hanya berhasil berlayar sampai muara.
Aku terdiam sejanak, mencoba mendengarkan dengan seksama suara perahu itu, apa benar dirinya. Aku lihat kebelakang, aku mencoba menerawang, tapi sayang kabut terlalu tebal untuk aku melihat dengan jelas. Hingga akhirnya moncong perahunya mendekati perahuku. Ternyata benar, itu adalah suara mesin perahunya. Mesin yang tua, tetapi begitu kuat. Dahulu kayu – kayu untuk membuat perahuku di derek oleh perahu bermesin itu, di derek dari hulu ke hilir, hingga aku sampai di muara.
“apa gerangan yang membuatmu datang padaku?” tanyaku padanya.
“kita ini saudara, aku mendengar kabar burung, perahu yang kau buat dari hasil keringatmu itu hampir karam karena tak kuat menghadang karang es. Bagaimana kau ini, karang es saja tak becus kau hancurkan, apalagi gunung es?.mau mati membeku kau?” jawabnya ketus.
Aku terdiam. Tertunduk malu.
Aku diam bukan karena ku tak sanggup menjawab. Tapi aku sadar bahwa aku tak becus.
“sekarang kemana perahu yang lain?.kau tertinggal. Kau ini berlayar hanya mengandalkan layar dan arah angin, tak tampakkah olehmu, mereka berlayar dengan menggunakan mesin?. Tak tampak kah olehmu perahu mereka terbuat dari baja yang kuat?. Mereka tak hanya mampu menghancurkan karang, gunung es bagi mereka tak lebih dari tumpukan jerami.” Dia mendakwaku.
Aku terdiam, bahkan hampir membeku.
“kembalilah ke muara, dan mulai menanam pohon agar kau bisa membuat perahu yang lebih besar kelak. Ayo aku derek perahumu sampai ke muara.” Lanjutnya padaku.
Aku terdiam, dan mundur satu langkah dari tempat aku berdiri di perahuku.
“tidak!!”
“kau ini keras kepala, mau mati membeku disini?.mengorbankan masa depanmu pada samudera yang tidak beradab ini?.kita orang biasa yang tidak mampu membuat perahu dari baja, yang tidak mampu membeli mesin dengan kecepatan tenaga kuda, bukalah matamu.” Lanjutnya semakin membuatku yakin, bahwa aku bisa.
“kita bisa!!!. Asal kita mau berusaha.” Aku bersikukuh.
“aahhh...sudahlah. percuma aku peduli padamu. Kau tetaplah kau yang keras kepala. Mati saja kau membeku di samudera ini.” Dia menghidupkan mesin perahunya,
Aku menitikan air mata di atas perahuku yang telah terisi air laut hampir seperempatnya, dan sekarang bertambah banyak dengan air mataku. “kunfayakun” hatiku berbisik.
Luasnya langit seluas samudera ini, dan aku yakin ada banyak orang yang mati di samudera ini, hanya karena perahu mereka tak cukup kuat dan besar untuk mengalahkan ganasnya sang samudera  ilmu. Dan aku tidak sudi jadi bagian dari mereka.
Perahunya mulai menjauh dari perahuku. Dia saudaraku meninggalkanku begitu saja. Meninggalkan sodara lelakinya dalam keterpurukan.
Tak lama sebuah perahu bermesin tak bernahkoda menabrak perahu kecilku. Aku terkaget, karena tabrakannya membuat perahu kayuku retak dan air laut semakin deras masuk hendak menenggelamkan perahu kecilku.
“PERGUNAKANLAH PERAHU ITU BAIK-BAIK!!!, ITU ADALAH PERAHU KAYU YANG AKU BUAT DARI POHON YANG AKU TANAM BERTAHUN-TAHUN, ADA PERBEKALAN DAN BERMESIN PULA. JIKA KAU SUDAH BERLABUH KELAK, KABARILAH ABANGMU INI!!. DAN JANGAN LUPA BAWAKAN BIBIT TERBAIK POHON KAYU SEBAGAI PENGGANTI POHON YANG AKU TEBANG UNTUK PERAHU ITU. HATI-HATI, SAMUDERA LEBIH GANAS DARI MUARA!!!.AKU PERCAYA PADAMU!!”
Suara yang lantang itu terdengar dari kejauhan, dan itu suara saudaraku yang tadi. Abangku sendiri.
“TERIMAKASIH BANG!!. KAU TAK SEKERAS YANG AKU LIHAT, TAK AKAN LUPA AKU PADA BIBIT YANG KAU PESAN, AKAN AKU BAWAKAN BIBIT TERBAIK POHON KAYU YANG ADA DI DUNIA INI. ITU JANJIKU!!!”
Aku tahu, aku tidak pernah sendiri, ada orang – orang kuat dibelakangku. Orang – orang yang selalu ada, bahkan saat aku merasa sendiri. Keluargaku dan mereka yang sayang padaku, akan selalu ada disini. Didalam hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

...mari saling berbagi, dan mengkoreksi...