Kini setiap hari
Selasa adalah hari terpenting dalam sejarah hidup kami, sang perahu penjelajah
samudera ilmu. Karena di hari ini salah satu dari kami akan dinobatkan sebagai
Sarjana Ekonomi, sekelompok orang setiap
minggu setiap hari selasa akan mencetak sejarah baru dalam hidup mereka.
Termasuk aku, si perahu kayu yang sempat akan karam di samudera itu. Tapi kini
aku telah bersandar di pelabuhan, pelabuhan yang luar biasa. Aku sedang
mempersiapkan diri untuk turun dari perahu kayuku. Seminggu yang lalu teman
baikku telah turun dari perahunya dan menjadi yang tercepat dan termuda. Dia
adalah pembuka kunci pintu pertama yang berhasil mendapatkan dua huruf besar S
dan E di belakang namanya. Dan aku bangga melihat itu. Tanpa halangan yang
berarti dia berhasil menyelesaikan studynya. Dan dia baru 20 tahun. Dia lah
Febri Lestari SE. Wanita rajin yang aku kenal.
Seharusnya hari
ini sahabatku pun turun dari perahunya, dan mendapatkan dua huruf itu, namun
malang cuaca pelabuhan sedang buruk sehingga kepala pelabuhan memutuskan untuk
memundurkan jadwal menjadi minggu depan di hari yang sama tanggal 19 Februari
2013. Tanggal yang sama dimana aku akan turun dari perahuku.
Tuesday, 19 Februari 2013
Aku tegang luar
biasa, tegang yang teramat. Karena semua dari garis keturunan abahku tidak
pernah merasakan hal ini. Aku beruntung disatu sisi. Tapi bingung disisi – sisi
lainnya. Tak ada yang bisa ditanya bagaimana, harus seperti apa, tidak ada
keluarga yang bisa ikut sibuk mempersiapkan hari bersejarah itu. Tapi aku
yakin, mamah merasakannya, beliau selalu bertanya dengan basa Sunda dan aksen
yang khas.
“De lamun tos
sidang teh teras kumaha?.”
Aku tersenyum.
“nya lulus, kantun wisuda!”
“ooohh...alhamdulillah
atuh, iraha sidangna?”.
Aku tersenyum.
“enjing. Matakna abdi nyetrika almamater.”
“jam sabaraha?.
Isuk keneh?.mamah nyangu subuh atuhnya.”
Aku menangis
dalam hati “tenang we da abdi berangkat jam set 7 an.”
Aku tahu mamah
tak mengerti bagaimana itu sidang, seperti apa, bagaimana tegangnya, dan apa
yang harus dipersiapkan. Yang beliau lakukan adalah mendo’akan yang terbaik,
dan meyakinkan anaknya tidak kelaparan saat sidang. Dan itu membuat aku tahu
arti ikhlas sebenarnya. Tidak perlu memaksakan yang tidak kita kuasai, lakukan
yang terbaik yang bisa kita lakukan, itu jauh lebih penting.
Dan tadi pagi
semua do’anya di kabul Alloh. Dia, Tuhan yang selalu mendengar keluh kesahku,
dan do’a ibuku telah menyelamatkanku di samudera ilmu itu. Membuatku yakin pada
ayat-ayat – Nya, meski aku sadar aku hanya hamba biasa yang tidak luput dari
khilaf.
Aku anak ibuku
yang besar dan di didik oleh ketidak mampuan akan finansial, mampu menyelesaikan
Strata satu hanya dengan do’a dan restu beliau. Dan Dia Tuhan dari segala
Tuhan, yang Maha mendengar Alloh SWT, dengan tangan halusnya menuntunku, dan
selalu mendengar do’a ibuku disetiap ¾ malam, ketika aku yang ada di dalam
do’anya terlelap tidur menikmati panjangnya malam. Dan para pahlawan kehidupan,
sang perahu pembawa perahu, Abangku satu – satunya yang setiap pagi
bercengkrama dengan nasib, tidak pernah letih memanen pundi – pundi rupiah yang
sebagian dia beri untukku. Dan aku sang anak kumal yang dahulu dihina karena
jidatku yang lebar, setiap pagi bergelut dengan buku dan hidup di aroma
organisasi yang ganas. Mozaik hidupku. Indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
...mari saling berbagi, dan mengkoreksi...