Jumat, 29 April 2016

..."hal-hal besar menanti di setiap tikungan"_Richard M.DeVos_

...aku kencangkan sabuk pengaman di kursi sopirku, aku tekan gas hingga jarum speedometer naik drastis ke angka 100, aku tahu ini bukan jalan bebas hambatan. Tapi kadang kita perlu berjalan cepat di jalan yang berlubang agar tak terlalu lama kita terjerembab didalamnya. Akan sedikit brutal dan akan sedikit menakutkan, tapi bukankah setiap inci dari kehidupan selalu menakutkan?...

...memutuskan keluar dari lembah yang telah mengantarkanku ke berbagai pelosok dunia adalah keputusan besar dalam hidupku. Aku berdebat dengan seisi sudut hatiku, dengan seluruh praksi yang telah ikut memutuskan keputusan-keputusan besar dalam hidupku di masa lalu. Aku koordinasikan dengan tim ahli dari berbagai pelosok negeri, Aku rundingan dengan negara sahabat yang selalu mendukung semua karierku. Aku telah berada di sebuah keputusan hasil perundingan itu...

...aku ajukan hasilnya ke pemimpin lembah tempat aku berada sekarang ini. Kembali aku temukan pro dan kontra, penandatanganan yang bertele-tele menghambat planning yang telah aku susun. Tidak apa, akan ada waktu dan materi yang dikorbankan. Berbagai kemungkinan telah aku telaah bersama tim yang luar biasa didalam hidupku. Aku keluar...

...hanya kata bagaimana yang mereka pertanyakan padaku.Jika saja ku tahu bagaimana kedepannya, tentu tak perlu aku rundingkan semuanya. Begitulah cerita dalam kehidupan manusia, semuanya akan indah pada waktunya. Semua ini bukan tentang baik dan salah, bukan untuk di tilai oleh manusia, Tuhan tidak pernah memaksakan umatnya untuk menjadi apa yang orang lain mau, Tuhan menitipkan raga untuk dijaga...

...Jika saja aku tahu, bagaimana. Tak perlu aku meratapi...
...Jika saja aku tahu, bagaimana. Tak perlu aku bersikeras.
...Cukup diam dan menikmati...

Senin, 18 April 2016

...permen NANO-NANO...


...aku mulai cerita ini dengan sejarah hidup abangku, yang kini telah menjadi Bapak dari ponakanku. 34 tahun yang lalu 2 tahun setelah Galunggung meluberkan lahar panasnya, Tuhan menitipkan jasad suci bernyawa pada ibuku. Tentu ibu bahagia, bersuka cita menyambut anak kedua mereka. Karena ini anak lelaki pertama bagi mereka, aku dapat pastikan abangku ini mendapatkan baju bayi baru yang bagus. Mana mungkin tega ibuku memakaikan baju bekas mbakku dulu. Ada pihak yang kurang senang dengan kehadiran abangku ini, siapa lagi kalau bukan mbak ayuku yang menjadi kakak di usianya yang baru 2 tahun. Jika saja dia sudah pintar berunjuk rasa, aku rasa ada ribuan sepanduk terpampang dengan besarnya di setiap sudut rumah, menolak kelahiran abangku ini.

“BESARKAN AKU DULU!!!”
“AKU TIDAK RELA DIGENDONG NENEK!!!”

…aku bukan termasuk perusak kebahagiaan orang lain, karena aku lahir 7 tahun setelah abangku lahir. Tentu dia sudah besar, di gendongpun sudah tidak mau. Tepatnya mamah sudah tidak mau menggendong abangku. Tapi miris, aku sebelumnya tidak pernah direncanakan untuk dibuat, karena dahulu mamah ikut program KB “ayudi”. Dari situ asal mula nama depanku.
…hari ini 18 April 2016 tepat abangku berusia 34 tahun. Jika kalian ingin tahu usiaku silahkan kurangkan 7 tahun. 34 tahun bukanlah waktu yang pendek, mungkin dahulu abangku tidak pernah terpikir apa yang akan terjadi di usianya yang ke 34. Banyak perjuangan, pengorbanan, pertarungan dan segala jenis perdebatan manusia dengan Tuhan-Nya. Yang kesemua tanda Tanya itu di jawab oleh waktu, dan angkuhnya sang waktu dia tidak pernah mau di ulang. Kita harus bersyukur, atau mungkin kembali bertanya, kenapa hidup begitu komplek. Begitu semberawut, ketika waktu tidak mau di putar ulang, Tuhan menghadirkan penyesalan. Tetapi percuma menyesal, bukankah kita tahu bahwa waktu tidak pernah bias diulang. Semoga segala bentuk penyesalan dapat di balas dengan segala bentuk prestasi hidup.

…dan aku tidak pernah mau menyesal, jika Tuhan titipkan kisah hidup yang bahagia, yang pahit, yang manis, yang asem, yang asin dan yang rame rasanya. Bagiku itu adalah permen Nano-Nano. Dahulu saat aku masih kecil ketika mbak dan abangku membeli permen ini, aku selalu takut memakannya. Karena aku tidak tahu rasa apa yang pertama kali muncul di permen itu. Kadang rasa pertama asin, kemudian manis, atau asem kemudian asin dan manis. Seperti itulah hidup kita, Nano-Nano. Selalu yakin bahwa hidup adalah kombinasi yang pas antara asem, pahit, manis dan asin. Permen itu mengajarkan kita untuk selalu siap dengan rasa yang muncul tiba-tiba sampai permen itu habis. Begitu juga hidup kita, jangan pernah egois selalu ingin meraskan manis, dan jangan pula berpikir bahwa hidup kita akan selamanya asem. Aku, adalah orang yang siap dengan ke-Nano-Nano-an hidup ini.

Selasa, 29 Maret 2016

...rindu yang telah berlalu...

...dalam dekap tanah Sumatera, aku bercumbu pada bising dan sepi. bercengkrama pada embun-embun pagi kota Prabumulih. Ini adalah tempat dimana aku tidak pernah dilahirkan, tapi Tuhan telah mentakdirkan aku untuk dapat mengecap sari pati hidup di Sumatera. Negara ini memiliki banyak pulau, pulau-pulau terbesar di dunia, Sumatera salah satunya. Tanah yang kering, tanah melayu yang keras. 
...Tuhan pertemukan aku dengan budaya baru, orang-orang baru, dunia baru, pengalaman baru. Aku merana setiap hari. Rinduku pada rumah, pada hangatnya pagi dan pada duniaku yang lalu. Aku rindu Ibu. Rindu senyumnya, rindu baunya, rindu dekapnya. Aku rindu seisi yang lalu. Tapi hidup tidak melulu tentang masa lalu.



Jumat, 29 Januari 2016

...setia...

Malam ini Satnite, begitu remaja sekarang bilang. Malam minggu, malam bercumbu kasih, malam pengabdian bagi sebagian orang. Malam minggu malam yang sama dengan malam – malam lainnya. Cinta sepertinya enggan berkunjung ke lubuk hatiku, setelah terakhir aku memutuskan untuk sendiri. Entahlah, cinta yang salah atau aku yang salah kaprah. Di Bogor ini malam minggu selalu basah karena memang ini kota yang basah di Indonesia. Sepertinya air hujan sudah menjadi kawan setia kota ini. Dia si hujan yang setia, tak kenal senja tak kenal pagi atau satnite. Dia setia. Seperti setianya jingga pada senja, dan gelap pada malam. Kesetiaan yang abadi.

...coklat, dari kaka untuk adiknya yang coklat....

Coklat,
Kulitku yang coklat.
Coklat yang coklat dan manis.

Dalam hidupku tidak ada coklat terbaik di dunia ini selain coklat yang aku dapat dari susah payahnya kakak perempuanku menyisipkan uang jajan, yang hanya cukup untuk membeli dua buah coklat saja, yang salah satunya dia beli untukku. Saban pagi hanya demi membujukku mandi, atau membujukku keramas, dia menjanjikan coklat terbaik yang akan dia bawa saat dia pulang sekolah nanti. Dan aku tergiur dengan bujukkannya itu. Menanglah dia, memandikanku dan mengkramasiku sampai aku teriak-teriak karena dingin. Itulah coklat terbaik!!!.

Coklat yang dibalut kasih sayang dan kesabaran, rasanya luar biasa nikmat. Manis sedikit pahit ciri khas coklat terbaik dunia. Bagiku saat itu, saat usiaku belum genap di angka 6, hariku sangat indah. Saat teman-teman sebayaku tidak bisa makan coklat di siang hari, aku bisa makan coklat dengan lahap. Aku hafal betul jadwal kakak perempuanku pulang, dengan rok warna birunya dan tas nya yang sudah kumal, dia tampak cantik. Aku nantikan kedatangannya di ujung jalan gank menuju ke rumahku. Dari kejauhan dia sudah tersenyum, aku menanti coklat. 
Kadang coklat itu lumer di bungkusnya karena terik mentari siang yang memanggang kakaku di sepanjang jalan menuju rumah. Dia adalah atlit jalan santai terbaik saat itu, karena setiap dia harus beli coklat untukku atau harus membeli buku LKS baru, maka uang yang harusnya untuk bayar angkot dia simpan. Dan dia rela kakinya yang halus berubah gosong kering dan keras macam pemain bola, jalan kaki sejauh 5 km. Itulah perjuangan demi sebuah coklat yang dia beli untuk adiknya yang coklat.

Aku girang bukan kebayang mendapatkan coklat berbungkus kertas warna merah dan putih, bertuliskan Coklat Cap Jago.


Sampai saat ini aku bilang itu coklat terbaik yang dimiliki bangsa ini. 

...mozaik perahu kayu...

...entah dari mana aku harus memulai, seperti ada sebuah tekanan di bagian dadaku...mungkin rasa lelah atau mungkin sebuah rasa lain yang harus aku pertanyakan pada diriku sendiri.
...ada rasa dimana aku benar benar ingin menangis, ketika aku mencoba mengenang sebuah susunan mozaik hidup yang telah aku temukan, bahkan tak jelas akan menjadi gambar apa...
...diotakku berputar bahkan berebut tempat susunan kata yang ingin keluar untuk aku curahkan disini, seperti tentang cinta yang tak kunjung jelas, tentang hidup yang samar dan tak nampak, tentang segala perasaan yang begitu besar, bahkan mimpipun enggan tak peduli pada perebutan itu...mimpi tentang orang asing, sorebone, musim dingin, semi, gugur...bahkan ketika aku tak tahu akan dengan siapa aku melalui semua itu masih samar dalam hidupku...
...lagi – lagi itulah hidup kawan, tidak akan pernah ada yang merasa puas, dan aku akan tetap haus, haus, haus dan haus...
...aku haus pada jilatan-jilatan apik para fropesor, aku haus pada rangkaian-rangkaian cerdik para guru besar yang terangkum indah, aku haus pada berjuta – juta mimpi yang kadang berlari gesit untuk menghindar ketika aku akan menangkapnya, dan aku haus pada pengalaman dalam menemukan mozaik kehidupan...
...berkumpulah mimpi, bersiaplah berlari karena aku akan siap mengejar lebih cepat, lebih cepat, lebih cepat dari gerakanmu...


Selasa, 29 April 2014

...si mata kayu, ibu...



Aku tegang luar biasa, tegang yang teramat. Karena semua dari garis keturunan abahku tidak pernah merasakan hal ini. Aku beruntung disatu sisi. Tapi bingung disisi – sisi lainnya. Tak ada yang bisa ditanya bagaimana, harus seperti apa, tidak ada keluarga yang bisa ikut sibuk mempersiapkan hari bersejarah itu. Tapi aku yakin, mamah merasakannya, beliau selalu bertanya dengan basa Sunda dan aksen yang khas.
“De lamun tos sidang teh teras kumaha?.”(Nak kalo sudah sidah terus ngapain?)
Aku tersenyum. “nya lulus, kantun wisuda!” (ya lulus, terus wisuda) 
“ooohh...alhamdulillah atuh, iraha sidangna?” (Alhamdulillah ya, kapan sidangnya?)
Aku tersenyum. “enjing. Matakna abdi nyetrika almamater.” (besok.makanya saya setrika almamater)
“jam sabaraha?. Isuk keneh?.mamah nyangu subuh atuhnya.” (jam berapa?. pagi banget?. mamah masak nasi subuh ya.)
Aku tersenyum “tenang we da abdi berangkat jam set 7 an.” (santai aja mah, saya berangkat jam 7 an)
Aku tahu mamah tak mengerti bagaimana itu sidang, seperti apa, bagaimana tegangnya, dan apa yang harus dipersiapkan. Yang beliau lakukan adalah mendo’akan yang terbaik, dan meyakinkan anaknya tidak kelaparan saat sidang. Dan itu membuat aku tahu arti ikhlas sebenarnya. Tidak perlu memaksakan yang tidak kita kuasai, lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, itu jauh lebih penting. 

Dan tadi pagi semua do’anya di kabul Alloh. Dia, Tuhan yang selalu mendengar keluh kesahku, dan do’a ibuku telah menyelamatkanku di samudera ilmu itu. Membuatku yakin pada ayat-ayat – Nya, meski aku sadar aku hanya hamba biasa yang tidak luput dari khilaf.

Aku anak ibuku yang besar dan di didik oleh keterbatasan akan finansial, mampu menyelesaikan Strata satu hanya dengan do’a dan restu beliau. Dan Dia Tuhan dari segala Tuhan, yang Maha mendengar Alloh SWT, dengan tangan halusnya menuntunku, dan selalu mendengar do’a ibuku disetiap ¾ malam, ketika aku yang ada di dalam do’anya terlelap tidur menikmati panjangnya malam. Dan para pahlawan kehidupan, sang perahu pembawa perahu, Abangku satu – satunya yang setiap pagi bercengkrama dengan nasib, tidak pernah letih memanen pundi – pundi rupiah yang sebagian dia beri untukku. Dan aku sang anak kumal yang dahulu dihina karena jidatku yang lebar, setiap pagi bergelut dengan buku dan hidup di aroma organisasi yang ganas. Mozaik hidupku. Indah.

Kamis, 24 April 2014

...selasa...



Kini setiap hari Selasa adalah hari terpenting dalam sejarah hidup kami, sang perahu penjelajah samudera ilmu. Karena di hari ini salah satu dari kami akan dinobatkan sebagai Sarjana Ekonomi,  sekelompok orang setiap minggu setiap hari selasa akan mencetak sejarah baru dalam hidup mereka. Termasuk aku, si perahu kayu yang sempat akan karam di samudera itu. Tapi kini aku telah bersandar di pelabuhan, pelabuhan yang luar biasa. Aku sedang mempersiapkan diri untuk turun dari perahu kayuku. Seminggu yang lalu teman baikku telah turun dari perahunya dan menjadi yang tercepat dan termuda. Dia adalah pembuka kunci pintu pertama yang berhasil mendapatkan dua huruf besar S dan E di belakang namanya. Dan aku bangga melihat itu. Tanpa halangan yang berarti dia berhasil menyelesaikan studynya. Dan dia baru 20 tahun. Dia lah Febri Lestari SE. Wanita rajin yang aku kenal.
Seharusnya hari ini sahabatku pun turun dari perahunya, dan mendapatkan dua huruf itu, namun malang cuaca pelabuhan sedang buruk sehingga kepala pelabuhan memutuskan untuk memundurkan jadwal menjadi minggu depan di hari yang sama tanggal 19 Februari 2013. Tanggal yang sama dimana aku akan turun dari perahuku. 

Tuesday, 19 Februari 2013 

Aku tegang luar biasa, tegang yang teramat. Karena semua dari garis keturunan abahku tidak pernah merasakan hal ini. Aku beruntung disatu sisi. Tapi bingung disisi – sisi lainnya. Tak ada yang bisa ditanya bagaimana, harus seperti apa, tidak ada keluarga yang bisa ikut sibuk mempersiapkan hari bersejarah itu. Tapi aku yakin, mamah merasakannya, beliau selalu bertanya dengan basa Sunda dan aksen yang khas.
“De lamun tos sidang teh teras kumaha?.”
Aku tersenyum. “nya lulus, kantun wisuda!”  
“ooohh...alhamdulillah atuh, iraha sidangna?”.
Aku tersenyum. “enjing. Matakna abdi nyetrika almamater.”
“jam sabaraha?. Isuk keneh?.mamah nyangu subuh atuhnya.”
Aku menangis dalam hati “tenang we da abdi berangkat jam set 7 an.”
Aku tahu mamah tak mengerti bagaimana itu sidang, seperti apa, bagaimana tegangnya, dan apa yang harus dipersiapkan. Yang beliau lakukan adalah mendo’akan yang terbaik, dan meyakinkan anaknya tidak kelaparan saat sidang. Dan itu membuat aku tahu arti ikhlas sebenarnya. Tidak perlu memaksakan yang tidak kita kuasai, lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, itu jauh lebih penting.
Dan tadi pagi semua do’anya di kabul Alloh. Dia, Tuhan yang selalu mendengar keluh kesahku, dan do’a ibuku telah menyelamatkanku di samudera ilmu itu. Membuatku yakin pada ayat-ayat – Nya, meski aku sadar aku hanya hamba biasa yang tidak luput dari khilaf.
Aku anak ibuku yang besar dan di didik oleh ketidak mampuan akan finansial, mampu menyelesaikan Strata satu hanya dengan do’a dan restu beliau. Dan Dia Tuhan dari segala Tuhan, yang Maha mendengar Alloh SWT, dengan tangan halusnya menuntunku, dan selalu mendengar do’a ibuku disetiap ¾ malam, ketika aku yang ada di dalam do’anya terlelap tidur menikmati panjangnya malam. Dan para pahlawan kehidupan, sang perahu pembawa perahu, Abangku satu – satunya yang setiap pagi bercengkrama dengan nasib, tidak pernah letih memanen pundi – pundi rupiah yang sebagian dia beri untukku. Dan aku sang anak kumal yang dahulu dihina karena jidatku yang lebar, setiap pagi bergelut dengan buku dan hidup di aroma organisasi yang ganas. Mozaik hidupku. Indah.

Sabtu, 07 September 2013

...kayu PERTAMA perahu kayuku...

23 tahun silam, aku baru saja menghirup O2 yang katanya cuma senyawa itu yang bisa membuat manusia hidup. Aku si anak paling bontot dari 3 bersaudara memulai cerita hidupnya dari tanggal 29 Sepetember 1989 hari Jum’at pukul 03:05 dini hari. Aku adalah anak sang fajar, yang bersentuhan dengan embun tanggal 29 September ‘89. Aku adalah anak sang pemimpi yang terlahir tanpa seprai baru, tanpa baju baru, dan tanpa gendongan bayi baru. Semuanya bekas kakak-kakakku. Aku adalah anak sang pujangga yang karenanya aku menangis dengan nada yang begitu merdu. Aku adalah anak sang kaisar. Mulai memimpin perang saat pertama kali dilahirkan. Aku adalah anak pembawa perubahan yang karena egoku aku berhasil menyentuh emas tertinggi harapan keluarga. Aku adalah anak sang dewa,yang karenanya aku ditugaskan untuk menemukan sang dewi. Aku adalah aku, yang bajibaku dengan segala harapan. 23 tahun aku membuat sejarah, aku membuat cerita dan entah bagaimana akhirnya. Aku kumpulkan mozaik-mozaik kehidupan, yang entah akan menjadi seperti apa.
Sepeda kecil pertamaku. Sabun mandi kesukaanku. Shampoo, sikat, pasta, dan bedak kesukaanku. Pengalaman pertamaku naik komedi putar. Kesedihanku saat aku telat daftar TK favorit di kampungku. Baju lebaranku. Seragam sekolah dasar pertamaku. Buku pertamaku. Pensil, tas, sepatu, dasi merah, topi, dan sebuah semangat yang menggebu pertamaku. Teman sebangku pertamaku, guru pertamaku, tulisan pertamaku, dan sebuah sekolah dasar pertamaku, yang kini menjadi sekolah dasar pertamanya bagi keponakanku, dan bakal calon sekolah dasar bagi keponakanku berikutnya. Prestasi pertamaku, rangking pertama pertamaku. Dan jatuh cinta pertamaku. Cinta monyet pertamaku. Aku masih ingat semuanya. Aku masih ingat bayangan bahagia di mukaku saat pertama-pertamaku.

Rabu, 24 Juli 2013

elegi PERAHU KAYU

Hhhmmmm...aku tidak sabar menunggu hari dimana aku di nobatkan sebagai sarjana, hari dimana hasil penelitianku diujikan dan aku dikukuhkan telah selesai menempuh pendidikan S1-ku. 3 tahun 4 bulan yang lalu aku masih bisa melihat diriku berdiri di depan sebuah papan npengumuman hasil tes masuk perguruan tinggi itu. Aku yang menggunakan pakaian seadanya. Hasil keringatku selama 9 bulan menjadi buruh di salah satu perusahaan otomotif besar di Indonesia. Hasil menahan nafsu untuk tidak membeli handphone keluaran terbaru seperti yang teman sekost-ku beli. Menahan diri untuk tidak membeli baju dengan merk yang sedang booming pada waktu itu. Atau menahan diri untuk tidak menggunakan gaji-gajiku untuk DP motor yang aku inginkan. Aku tukar semua nafsu itu demi dua buah huruf S dan E yang dari kecil sering aku mimpikan. Yang selalu hadir dalam setiap malamku, dan malam-malam terakhir dalam masa kerjaku sebagai buruh kontrak. Dan akupun tidak tahu akan ada berapa gunungan rupiah jika dua huruf itu telah aku dapatkan.
Guru agamaku dulu pernah menerangkan sebuah surat di Al-Qur’an yang artinya “Alloh akan menikan beberapa derajat orang yang berilmu...”
Dan itu yang membuat semangatku tidak pernah padam, semangat itu menjadi api yang melontar – lontar ketika aku baca dalam surah Yassin “...kunfayakun”, ketika Alloh kehendaki maka jadilah. Maka apa yang harus aku takutkan?, walaupun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku saat itu benar – benar takut, aku takut aku tidak bisa menuntaskan pendidikanku, karena biayanya yang tidak sedikit.
Dengan begitu yakin aku kembangkan layar pada perahuku, perahu yang akan mengarungi luas samudra ilmu, yang aku sendiri tidak pernah tahu seluas apa, dan akan berlabuh dimana. Perahuku terseok – seok, hampir karam. Hampir tenggelam. Bocor disana sini, pahatan kayunya tidak kuat menabrak karang es, saat perahu yang lain dengan gagahnya menghancurkan karang-karang itu, bahkan mampu meruntuhkan gunung es sekalipun. Perahu kayuku yang malang ini harus dengan kuat menahan gelombang. Menghantam badai, dan bahkan terombang-ambing tak tentu arah. Aku punya niat yang baik, dan tentunya perahu-perahu yang lain tidak pernah menutup mata, saat perahuku akan tenggelam, sebuah kayu yang kuat dari perahu lain dilemparkan padaku. Dengan lantang orang di perahu itu berkata,
“Gunakan kayu itu untuk menambalnya, kayu itu terlalu basah untuk di bakar diperapian kamarku.”
Sungguh jika kayu ini tidak berguna baginya, ini sangat bermanfaat untukku. Kemudian perahu yang lain yang sama besar dengan perahu yang tadi melakukan hal yang sama, mereka melemparkan kayu-kayu yang tidak mereka gunakan ke arahku. Aku dibuatnya tersenyum, tersenyum bangga, bangga pada mereka,bintang - bintang yang kadang tak ada yang tahu.
Perahuku mulai berlayar kembali, meski penuh rasa was – was. Rasa takut yang semakin besar, karena aku tahu akan ada banyak karang es yang lebih besar bahkan gunung  gunung es yang mau tidak mau harus aku robohkan. Tapi apakah kuat perahu kecilku ini?. Apa aku harus menghentikan pelayaranku? Aku telah tertinggal jauh, jauh sekali. Persediaanku menipis, bahkan sangat tipis. Aku harus mengorbankan moment-moment penting dalam perlayaranku, pesta tengah laut, lomba memancing, bahkan aku sempat tidak mengikuti ujian nahkoda sehingga nilaiku anjlok dari ujian sebelumnya.
Tapi sekali lagi, niatku baik. Aku ingin mencetak sejarah di keluargaku, sebagai orang pertama yang berhasil berlayar di tengah ganasnya samudera ilmu. Di tengah luasnya samudera itu, tajamnya karang-karang es, dan tingginya gunung-gunung es itu. Aku ingin jadi yang pertama. Aku ingin menjadi contoh bagi keturunan-keturunanku, keturunan sodara-sodaraku kelak. Aku ingin derajat keluarga ini ditinggikan di mata Alloh.
Maka ketika aku tertinggal, aku mendengar suara mesin dikejauhan dari sebuah perahu. Masih terbuat dari kayu, kayu yang sama seperti perahuku. Tapi perahu itu telah memiliki mesin, dan ukurannya lebih besar, garis-garis urat di kayunya, dan kerutan-kerutan dikeningnya menandakan betapa pengalaman hidup telah ia lalui. Dahulu ketika perahu itu tidak bermesin, dia sempat ingin berlayar dengan perahunya di samudera yang sama. Samudera yang sedang aku jelajahi, tapi dia urung. Atau mungkin dia takut, atau mungkin dia was-was, atau mungkin dia tahu, bahwa ada aku yang harus dia antar sampai muara ilmu. Perahu itu dahulu hanya berhasil berlayar sampai muara.
Aku terdiam sejanak, mencoba mendengarkan dengan seksama suara perahu itu, apa benar dirinya. Aku lihat kebelakang, aku mencoba menerawang, tapi sayang kabut terlalu tebal untuk aku melihat dengan jelas. Hingga akhirnya moncong perahunya mendekati perahuku. Ternyata benar, itu adalah suara mesin perahunya. Mesin yang tua, tetapi begitu kuat. Dahulu kayu – kayu untuk membuat perahuku di derek oleh perahu bermesin itu, di derek dari hulu ke hilir, hingga aku sampai di muara.
“apa gerangan yang membuatmu datang padaku?” tanyaku padanya.
“kita ini saudara, aku mendengar kabar burung, perahu yang kau buat dari hasil keringatmu itu hampir karam karena tak kuat menghadang karang es. Bagaimana kau ini, karang es saja tak becus kau hancurkan, apalagi gunung es?.mau mati membeku kau?” jawabnya ketus.
Aku terdiam. Tertunduk malu.
Aku diam bukan karena ku tak sanggup menjawab. Tapi aku sadar bahwa aku tak becus.
“sekarang kemana perahu yang lain?.kau tertinggal. Kau ini berlayar hanya mengandalkan layar dan arah angin, tak tampakkah olehmu, mereka berlayar dengan menggunakan mesin?. Tak tampak kah olehmu perahu mereka terbuat dari baja yang kuat?. Mereka tak hanya mampu menghancurkan karang, gunung es bagi mereka tak lebih dari tumpukan jerami.” Dia mendakwaku.
Aku terdiam, bahkan hampir membeku.
“kembalilah ke muara, dan mulai menanam pohon agar kau bisa membuat perahu yang lebih besar kelak. Ayo aku derek perahumu sampai ke muara.” Lanjutnya padaku.
Aku terdiam, dan mundur satu langkah dari tempat aku berdiri di perahuku.
“tidak!!”
“kau ini keras kepala, mau mati membeku disini?.mengorbankan masa depanmu pada samudera yang tidak beradab ini?.kita orang biasa yang tidak mampu membuat perahu dari baja, yang tidak mampu membeli mesin dengan kecepatan tenaga kuda, bukalah matamu.” Lanjutnya semakin membuatku yakin, bahwa aku bisa.
“kita bisa!!!. Asal kita mau berusaha.” Aku bersikukuh.
“aahhh...sudahlah. percuma aku peduli padamu. Kau tetaplah kau yang keras kepala. Mati saja kau membeku di samudera ini.” Dia menghidupkan mesin perahunya,
Aku menitikan air mata di atas perahuku yang telah terisi air laut hampir seperempatnya, dan sekarang bertambah banyak dengan air mataku. “kunfayakun” hatiku berbisik.
Luasnya langit seluas samudera ini, dan aku yakin ada banyak orang yang mati di samudera ini, hanya karena perahu mereka tak cukup kuat dan besar untuk mengalahkan ganasnya sang samudera  ilmu. Dan aku tidak sudi jadi bagian dari mereka.
Perahunya mulai menjauh dari perahuku. Dia saudaraku meninggalkanku begitu saja. Meninggalkan sodara lelakinya dalam keterpurukan.
Tak lama sebuah perahu bermesin tak bernahkoda menabrak perahu kecilku. Aku terkaget, karena tabrakannya membuat perahu kayuku retak dan air laut semakin deras masuk hendak menenggelamkan perahu kecilku.
“PERGUNAKANLAH PERAHU ITU BAIK-BAIK!!!, ITU ADALAH PERAHU KAYU YANG AKU BUAT DARI POHON YANG AKU TANAM BERTAHUN-TAHUN, ADA PERBEKALAN DAN BERMESIN PULA. JIKA KAU SUDAH BERLABUH KELAK, KABARILAH ABANGMU INI!!. DAN JANGAN LUPA BAWAKAN BIBIT TERBAIK POHON KAYU SEBAGAI PENGGANTI POHON YANG AKU TEBANG UNTUK PERAHU ITU. HATI-HATI, SAMUDERA LEBIH GANAS DARI MUARA!!!.AKU PERCAYA PADAMU!!”
Suara yang lantang itu terdengar dari kejauhan, dan itu suara saudaraku yang tadi. Abangku sendiri.
“TERIMAKASIH BANG!!. KAU TAK SEKERAS YANG AKU LIHAT, TAK AKAN LUPA AKU PADA BIBIT YANG KAU PESAN, AKAN AKU BAWAKAN BIBIT TERBAIK POHON KAYU YANG ADA DI DUNIA INI. ITU JANJIKU!!!”
Aku tahu, aku tidak pernah sendiri, ada orang – orang kuat dibelakangku. Orang – orang yang selalu ada, bahkan saat aku merasa sendiri. Keluargaku dan mereka yang sayang padaku, akan selalu ada disini. Didalam hatiku.