Rabu, 24 Juli 2013

elegi PERAHU KAYU

Hhhmmmm...aku tidak sabar menunggu hari dimana aku di nobatkan sebagai sarjana, hari dimana hasil penelitianku diujikan dan aku dikukuhkan telah selesai menempuh pendidikan S1-ku. 3 tahun 4 bulan yang lalu aku masih bisa melihat diriku berdiri di depan sebuah papan npengumuman hasil tes masuk perguruan tinggi itu. Aku yang menggunakan pakaian seadanya. Hasil keringatku selama 9 bulan menjadi buruh di salah satu perusahaan otomotif besar di Indonesia. Hasil menahan nafsu untuk tidak membeli handphone keluaran terbaru seperti yang teman sekost-ku beli. Menahan diri untuk tidak membeli baju dengan merk yang sedang booming pada waktu itu. Atau menahan diri untuk tidak menggunakan gaji-gajiku untuk DP motor yang aku inginkan. Aku tukar semua nafsu itu demi dua buah huruf S dan E yang dari kecil sering aku mimpikan. Yang selalu hadir dalam setiap malamku, dan malam-malam terakhir dalam masa kerjaku sebagai buruh kontrak. Dan akupun tidak tahu akan ada berapa gunungan rupiah jika dua huruf itu telah aku dapatkan.
Guru agamaku dulu pernah menerangkan sebuah surat di Al-Qur’an yang artinya “Alloh akan menikan beberapa derajat orang yang berilmu...”
Dan itu yang membuat semangatku tidak pernah padam, semangat itu menjadi api yang melontar – lontar ketika aku baca dalam surah Yassin “...kunfayakun”, ketika Alloh kehendaki maka jadilah. Maka apa yang harus aku takutkan?, walaupun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku saat itu benar – benar takut, aku takut aku tidak bisa menuntaskan pendidikanku, karena biayanya yang tidak sedikit.
Dengan begitu yakin aku kembangkan layar pada perahuku, perahu yang akan mengarungi luas samudra ilmu, yang aku sendiri tidak pernah tahu seluas apa, dan akan berlabuh dimana. Perahuku terseok – seok, hampir karam. Hampir tenggelam. Bocor disana sini, pahatan kayunya tidak kuat menabrak karang es, saat perahu yang lain dengan gagahnya menghancurkan karang-karang itu, bahkan mampu meruntuhkan gunung es sekalipun. Perahu kayuku yang malang ini harus dengan kuat menahan gelombang. Menghantam badai, dan bahkan terombang-ambing tak tentu arah. Aku punya niat yang baik, dan tentunya perahu-perahu yang lain tidak pernah menutup mata, saat perahuku akan tenggelam, sebuah kayu yang kuat dari perahu lain dilemparkan padaku. Dengan lantang orang di perahu itu berkata,
“Gunakan kayu itu untuk menambalnya, kayu itu terlalu basah untuk di bakar diperapian kamarku.”
Sungguh jika kayu ini tidak berguna baginya, ini sangat bermanfaat untukku. Kemudian perahu yang lain yang sama besar dengan perahu yang tadi melakukan hal yang sama, mereka melemparkan kayu-kayu yang tidak mereka gunakan ke arahku. Aku dibuatnya tersenyum, tersenyum bangga, bangga pada mereka,bintang - bintang yang kadang tak ada yang tahu.
Perahuku mulai berlayar kembali, meski penuh rasa was – was. Rasa takut yang semakin besar, karena aku tahu akan ada banyak karang es yang lebih besar bahkan gunung  gunung es yang mau tidak mau harus aku robohkan. Tapi apakah kuat perahu kecilku ini?. Apa aku harus menghentikan pelayaranku? Aku telah tertinggal jauh, jauh sekali. Persediaanku menipis, bahkan sangat tipis. Aku harus mengorbankan moment-moment penting dalam perlayaranku, pesta tengah laut, lomba memancing, bahkan aku sempat tidak mengikuti ujian nahkoda sehingga nilaiku anjlok dari ujian sebelumnya.
Tapi sekali lagi, niatku baik. Aku ingin mencetak sejarah di keluargaku, sebagai orang pertama yang berhasil berlayar di tengah ganasnya samudera ilmu. Di tengah luasnya samudera itu, tajamnya karang-karang es, dan tingginya gunung-gunung es itu. Aku ingin jadi yang pertama. Aku ingin menjadi contoh bagi keturunan-keturunanku, keturunan sodara-sodaraku kelak. Aku ingin derajat keluarga ini ditinggikan di mata Alloh.
Maka ketika aku tertinggal, aku mendengar suara mesin dikejauhan dari sebuah perahu. Masih terbuat dari kayu, kayu yang sama seperti perahuku. Tapi perahu itu telah memiliki mesin, dan ukurannya lebih besar, garis-garis urat di kayunya, dan kerutan-kerutan dikeningnya menandakan betapa pengalaman hidup telah ia lalui. Dahulu ketika perahu itu tidak bermesin, dia sempat ingin berlayar dengan perahunya di samudera yang sama. Samudera yang sedang aku jelajahi, tapi dia urung. Atau mungkin dia takut, atau mungkin dia was-was, atau mungkin dia tahu, bahwa ada aku yang harus dia antar sampai muara ilmu. Perahu itu dahulu hanya berhasil berlayar sampai muara.
Aku terdiam sejanak, mencoba mendengarkan dengan seksama suara perahu itu, apa benar dirinya. Aku lihat kebelakang, aku mencoba menerawang, tapi sayang kabut terlalu tebal untuk aku melihat dengan jelas. Hingga akhirnya moncong perahunya mendekati perahuku. Ternyata benar, itu adalah suara mesin perahunya. Mesin yang tua, tetapi begitu kuat. Dahulu kayu – kayu untuk membuat perahuku di derek oleh perahu bermesin itu, di derek dari hulu ke hilir, hingga aku sampai di muara.
“apa gerangan yang membuatmu datang padaku?” tanyaku padanya.
“kita ini saudara, aku mendengar kabar burung, perahu yang kau buat dari hasil keringatmu itu hampir karam karena tak kuat menghadang karang es. Bagaimana kau ini, karang es saja tak becus kau hancurkan, apalagi gunung es?.mau mati membeku kau?” jawabnya ketus.
Aku terdiam. Tertunduk malu.
Aku diam bukan karena ku tak sanggup menjawab. Tapi aku sadar bahwa aku tak becus.
“sekarang kemana perahu yang lain?.kau tertinggal. Kau ini berlayar hanya mengandalkan layar dan arah angin, tak tampakkah olehmu, mereka berlayar dengan menggunakan mesin?. Tak tampak kah olehmu perahu mereka terbuat dari baja yang kuat?. Mereka tak hanya mampu menghancurkan karang, gunung es bagi mereka tak lebih dari tumpukan jerami.” Dia mendakwaku.
Aku terdiam, bahkan hampir membeku.
“kembalilah ke muara, dan mulai menanam pohon agar kau bisa membuat perahu yang lebih besar kelak. Ayo aku derek perahumu sampai ke muara.” Lanjutnya padaku.
Aku terdiam, dan mundur satu langkah dari tempat aku berdiri di perahuku.
“tidak!!”
“kau ini keras kepala, mau mati membeku disini?.mengorbankan masa depanmu pada samudera yang tidak beradab ini?.kita orang biasa yang tidak mampu membuat perahu dari baja, yang tidak mampu membeli mesin dengan kecepatan tenaga kuda, bukalah matamu.” Lanjutnya semakin membuatku yakin, bahwa aku bisa.
“kita bisa!!!. Asal kita mau berusaha.” Aku bersikukuh.
“aahhh...sudahlah. percuma aku peduli padamu. Kau tetaplah kau yang keras kepala. Mati saja kau membeku di samudera ini.” Dia menghidupkan mesin perahunya,
Aku menitikan air mata di atas perahuku yang telah terisi air laut hampir seperempatnya, dan sekarang bertambah banyak dengan air mataku. “kunfayakun” hatiku berbisik.
Luasnya langit seluas samudera ini, dan aku yakin ada banyak orang yang mati di samudera ini, hanya karena perahu mereka tak cukup kuat dan besar untuk mengalahkan ganasnya sang samudera  ilmu. Dan aku tidak sudi jadi bagian dari mereka.
Perahunya mulai menjauh dari perahuku. Dia saudaraku meninggalkanku begitu saja. Meninggalkan sodara lelakinya dalam keterpurukan.
Tak lama sebuah perahu bermesin tak bernahkoda menabrak perahu kecilku. Aku terkaget, karena tabrakannya membuat perahu kayuku retak dan air laut semakin deras masuk hendak menenggelamkan perahu kecilku.
“PERGUNAKANLAH PERAHU ITU BAIK-BAIK!!!, ITU ADALAH PERAHU KAYU YANG AKU BUAT DARI POHON YANG AKU TANAM BERTAHUN-TAHUN, ADA PERBEKALAN DAN BERMESIN PULA. JIKA KAU SUDAH BERLABUH KELAK, KABARILAH ABANGMU INI!!. DAN JANGAN LUPA BAWAKAN BIBIT TERBAIK POHON KAYU SEBAGAI PENGGANTI POHON YANG AKU TEBANG UNTUK PERAHU ITU. HATI-HATI, SAMUDERA LEBIH GANAS DARI MUARA!!!.AKU PERCAYA PADAMU!!”
Suara yang lantang itu terdengar dari kejauhan, dan itu suara saudaraku yang tadi. Abangku sendiri.
“TERIMAKASIH BANG!!. KAU TAK SEKERAS YANG AKU LIHAT, TAK AKAN LUPA AKU PADA BIBIT YANG KAU PESAN, AKAN AKU BAWAKAN BIBIT TERBAIK POHON KAYU YANG ADA DI DUNIA INI. ITU JANJIKU!!!”
Aku tahu, aku tidak pernah sendiri, ada orang – orang kuat dibelakangku. Orang – orang yang selalu ada, bahkan saat aku merasa sendiri. Keluargaku dan mereka yang sayang padaku, akan selalu ada disini. Didalam hatiku.

PAGI YANG KERAMAT

Pagi yang keramat. Begitu aku menyimpulkan pagi ini. Mungkin berlebihan, tapi begitulah adanya. Tiga tahun silam aku hanya bagian dari keramaian ini, bahkan aku mengkritisi banyak hal dari  kejadian ini. Aku bilang pada diriku sendiri, tak tahukah mereka yang berjubah itu, jubah itu adalah butiran keringat sang tua yang menjadi renta. Jubah itu adalah percikan pengorbanan dan kerja keras sang renta yang mungkin besok lusa wafat. Tak tahukah bahwa keramaian ini adalah bagian dari harapan sang pengantar emas yang telah di tempa. Tidak berlebihan jika aku bilang yang berjubah itu adalah emas yang telah di tempa. Karena harusnya memang seperti itu.
Pagi yang keramat. Di pagi ini, aku bangun lebih awal. Tidak hanya aku, yang tidur di samping kamarku, yang tidur di samping kamar yang tidur disamping kamarku. Bahkan orang-orang yang tidur di atap yang berbeda di samping rumahku, bangun lebih awal di pagi yang keramat ini. Pagi yang keramat ini telah kami tunggu-tunggu. Berbulan – bulan abangku tak pulang kampung, hanya demi hari ini. Perempuan yang selalu ada di hatiku telah merindukan abangku sejak lama, terlebih pada cucu nya. Cucunya yang nakal tidak kepalang. Si kecil yang atraktif. Dan aku bangga memiliki bibit-bibit masa depan yang beragam. Ponakan – ponakanku yang unik.
Kembali pada pagi yang keramat, semuanya di pagi ini berkumpul. Abang kandungku, abang iparku, bahkan kakak tertua dari kedua orang tuaku. Semua berkumpul di rumahku pagi ini. Ya...pagi yang keramat. Ini benar-benar keramat, ini adalah pertama kalinya kedua orang tuaku duduk berdampingan menyaksikan aku yang memakai jubah hasil dari keringat mereka. Aku tidak bisa berkata – kata. Aku bahagia, bahagia yang terlalu.
“YUDI SEPTRIPRIYADI SUNARYA yudisium dengan PUJIAN”
Kalimat itu yang pertama kali orang tuaku tanyakan,
“apa itu artinya de?” aku tersenyum.
Mataku berlinang. Aku sadar bukan kalimat itu yang akan membuat kedua orang tuaku bangga, karena mereka tidak tahu sama sekali apa maksud dari kalimat itu. Dalam hati aku berkata, “Tuhan telah memuji kalian karena sanggup membesarkanku” Itu artinya.
Berbahagialah kalian yang memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan tinggi, karena aku saja yang orang tuaku tidak tahu arti kalimat itu sangat bahagia.
Dan lihatlah diri kalian, bukan atas dasar apa yang telah kalian capai, tapi apa yang membuat kalian bisa mencapai semua itu. Tuhan menitipkan aku pada mereka bukan tanpa alasan.

Minggu, 27 Januari 2013

pena dan kertas

...hmmm malam ini aku melihat ada 3 pemberitahuan dalam beranda akun FB-ku, hanya 3..sedikit dan itu biasa...
...kemudian aku melihat beranda, aku melihat status teman-teman Fb-ku yang online, di bawah status mereka ada semacam waktu yang menentukan kapan mereka meluncurkan status mereka, baru saja, beberapa menit yang lalu, 4 menit yang lalu, bahkan ada yang nyampe 10 jam yang lalu.
Aku tersenyum dibuatnya, manusia pada abad ini semakin gampang untuk dideteksi, lepas dari benar atau tidaknya status mereka. Hmmm...rindupun menjadi tak berarti, kangen yang mendalam menjadi luluh lantah karena tekhnologi. Setiap orang jadi kehilangan momen penting dalam bercinta, yaitu rindu. Tekhnologi mengajarkan kita untuk tidak sabar, untuk tidak setia,untuk membeberkan kesal pada semua orang.
Aku kangen ekspresi wajah seorang wanita yang menerima surat dari sang kekasih di perantauan seperti ekspresi kakaku dulu didalam kamarnya, dan ketika sang kekasih yang kini menjadi kakak iparku mendapat balasannya, wajah pejantannya hilang karena tertiup rindu.
Kerjanya, harinya semakin bersemangat, dan semakin melambat ketika angin mudik datang. Seminggu diperantauan serasa sebulan yang tak kunjung selesai ketika musim mudik datang. Begitu indah cinta bukan??, ketika rindupun hanyalah air mata dan kesabaran yang bisa menemani, dibaca beberapa kali surat itu seperti kita membaca pesan masuk di FB atau rangkaian BBM,atau SMS. Tapi jelas beda kawan, ketika kakak harus mengumpulkan lembaran lembaran lusuh surat dari sang kekasih, dikumpulkannya surat itu berwarna warni dan bermacam wangi. Indah, indah sekali menghiasi kotak kecil bekas kue lebaran milik mamah. Saban malam kakak lihat surat itu, diperhatikannya tulisan itu, coretan kecil disurat itu menjadi semacam kelucuan tersendiri. Senyum itu berbuah kesetiaan.
Setiap bulan dalam hidupnya, selalu di isi dengan penantian, seru melihatnya aku. Ingin aku baca lembaran-lembaran warna warni itu, tapi sayang aku belum bisa membaca. Dengan melihat rona wajah kakak saja aku senang, maka saban bulan pun menjadi penantianku, karena setiap bulan aku menyaksikan kisah romeo dan juliet yang bercumbu dengan rindu.
Kini semua penantian, rindu, dan kesetiaan terbayar dengan pantas, seorang anak laki-laki dan perempuan terlahir dari rahim kakaku. Lucu dan rupawan wajah mereka, itulah hasil surat menyurat kawan. Ingin aku memperlihatkan kisah cinta orang tua mereka lewat surat-surat itu. Itulah kisah yang tertuang dalam pena dan kertas.
Dahulu mengajarkan kita benar benar mandiri meski kekasih telah dimiliki, dahulu mengajarkan kita untuk tetap fokus pada mimpi, tapi sekarang, lihatlah kawan kesal sedikikt, lapor, saban jam, saban menit, lapor, ketika berangkat, pulang, lapor, malam hari, lapor, pagi lapor, siang, lapor, sore, lapor. Hmmm...jenuh pastinya, dan ketika menikah nanti, kegiatan sang kekasih sudah terbiasa diketahui, lalu disebelah mana kangen dan rindu itu terselip???
Dan bagaimana kita menyampaikan kisah cinta kita pada anak-anak kita???
Lewat pesan di FB??? Sepertinya tidak mungkin
Lewat rangkaian BBM??? Itupun mustahil
Lewat SMS di inbox handphone kita??? Dibatasi dengan jumlah pesan masuk.
Lalu pake apa???
Bagaimanapun juga sejarah tetap harus dicatat tak bisa hanya di simpan.

Selasa, 01 Mei 2012

...untuk siapa sebenarnya....

Sebenarnya malam ini agak males curat-coret di notebook. Tetapi kejadian tadi dijalan ketika aku pulang dari kampus membuat aku berfikir keras, apa yang salah di negeri ini?
Rakyatnya kah? Pemerintahnya? Tanahnya yang subur? Atau perairannya yang terlalu luas?

Malam ini kembali aku melihat sebuah sisi dari kehidupan, aku adalah orang yang sangat-sangat mencintai sebuah pertumbuhan, entah itu ekonomi, entah itu sarana prasarana dan bahkan tumbuhan, atau makhluk kecil yang dipanggil manusia.
Siapakah yang salah ketika anak kecil yang seharusnya tidur terlelap, yang seharusnya minum susu, yang seharusnya dijaga dengan baik oleh pemerintah karena itu asset Negara yang sangat berharga. Adam dan Hawa-kah yang salah?
Atau mungkin aku lah yang salah, karena malam ini aku tidak sengaja melihat mereka?

Ketika mereka yang sebaya dengan keponakanku, tidur di emper toko, ketika mereka yang sebaya dengan keponakanku yang satunya lagi, sibuk mengumpulkan receh demi receh guna ditukar dengan sebungkus nasi, dan sepotong tempe.

1.       Tanya pada mereka kenalkah mereka dengan huruf ini ‘Q’?
2.       Tanyakan pada mereka, sudahkah mereka mencoba blackforest?
3.       Lalu tanya pada mereka tahukah mereka pada Mentri yang mengurus HAM di negeri ini?

Aku yakin hanya sedikit dari mereka yang tahu ketiganya, dan aku yakin hanya pertanyaan yang ke satu-lah yang akan banyak mereka jawab. Karena mereka tahu, mereka harus pintar, tanpa mereka perjuangkan dan tanpa mereka tahu bahwa belajar adalah hak asasi bagi setiap manusia. Apa fungsi HAM apabila mereka belajar di lampu merah? Dimana HAM ketika mereka hanya menyaksikan bahwa para koruptor memiliki Hak untuk hidup layak di bui. Dan merekapun akan menyimpulkan bahwa HAM hanya berlaku bagi mereka yang berduit. Yang memakai parfume, bermobil, memiliki apartement mewah dan tentunya dekat dengan para pejabat HAM.

Mereka yang dekil, yang hidup di pinggir kali, yang berjuang di lampu merah, yang lahir dari garis keturunan yang memang miskin, mereka bukanlah konsumen HAM.
HAM tidak memasarkan produknya bagi mereka. Market share HAM adalah kalangan menengah keatas. Inilah konsep pendistribusian HAM oleh para pejabatnya, tentunya dengan cara pemasaran seperti ini akan meningkatkan profit perusahaan. Kebutuhan biaya operasional akan terjamin dan mereka akan mendapatkan bonus akhir tahun yang besar.
Dan bagi anda yang merasa diri anda sebagai pejuang HAM, silahkan berpikir ulang hak asasi yang mana yang seharusnya anda perjuangkan?

Gaji yang seperti apa yang seharusnya anda pakai untuk memberi makan anak istri anda?

Jumat, 16 Maret 2012


"I was in a corridor that I never understood until now"
I was a man who when given the mandate to become a leader "should not" lose their rights as human beings. As a human being who has a heart and feelings, as if I am I wrong to love someone?
am I wrong when I spit into the intimacy of the public with reasonable?
then why is it a matter of debate for some people?
talk about this relationship that makes us both feel uncomfortable.
there are not other than the talk about us?
we just want to feel the beauty of love by our own
do not need you all to join in this sense
just let us know about how much caring...
for we think it belongs to both of us

Kamis, 15 Maret 2012

exploration yogyakarta


beberapa hari yang lalu saya beserta "dia" pergi ke Yogyakarta, kita liburan disana sekitar 3 hari 2 malam. menikmati malam disepanjang jalan Malioboro, wisata kuliner di sekitarnya, atau hanya sekedar nongkrong di depan hotel Inna Garuda adalah sebuah rutinitas yang mengasikan...
hhhmmm...72 jam menikmati indahnya kota Yogyakarta bagaikan menghabiskan 5 menit dalam 1 jam...
kurang rasanya untuk dapat menikmati Yogyakarta dalam waktu 72 jam. Keindahan Taman Sari atau misteri dibalik dua buang beringin di tengah alun-alun Yogyakarta, adalah sebagian kecil dari sebuah perjalanan kali ini.
Yogyakarta bukanlah satu-satunya royal city yang ada di negeri yang amat subur ini, tetapi hanya Yogyakarta-lah yang sampai sekarang mampu berdiri sebagai the royal city-nya Indonesia.
Berbicara tentang keraton, sepertinya hanya Keraton Ngayogyakarto Hadiningratlah yang sampai detik ini mampu menjaga pakem-pakem keraton, apalagi para abdi dalemnya, beeuuhhhh...jangan ditanya seberapa nurutnya mereka pada aturan Sri Sultan. Salut deh buat para abdi dalem Keraton!!!
Bahkan gaungnya telah tembus skala internasional. Keunikan budaya keraton yang dimilikinya mampu membius para wisatawan untuk kembali datang dan datang ke Yogyakarta.
Tidak sampai disini saja, Taman Sari yang merupakan taman airnya Sri Sultan juga tidak kalah uniknya, dulu para selir raja biasa menghabiskan waktu di taman air ini, Selain tempat mandinya Sri Sultan konon Taman air ini adalah tempat pertemuan antara Sri Sultan dengan Penguasa pantai selatan, mistis yang beredar seperti itu, yang jelas sebagian besar dari bagian Taman Air ini sudah menjadi perkampungan masyarakat, maka dari itu wisata ke Taman sari adalah wisata ke perkampungan yang di namakan Kampung Taman. Taman air Taman Sari memilki corak wisatanya sendiri dan memilki keunikannya sendiri, ada masjid tanah di sekitar komplek taman air ini dan inilah sisi lain dari keunikannya.
Dan anehnya mereka datang tidak hanya untuk menikmati indahnya Keraton, uniknya Taman sari atau suasana malam di Malioboro, mereka datang untuk menikmati Gudeg yang di jual di lesehan ketika malam, bakpia Pathok, atau es Dawet yang sebenarnya bisa mereka dapatkan di kota lain selain Ygyakarta, itulah hebatnya kota ini.

believe it or not, should you come to this city!!!

Rabu, 29 Februari 2012

...98...

ga tahu harus mulai dari mana...
inalilahi wainailaihi roziun, 98 tahun usiamu nek, i will miss u
banyak kenangan yang telah nenek goreskan, beliau tutup usia di usianya yang 98 tahun...
saya masih merasa nenek ada disekitar saya, memberikan wejangan, mendo'akan ketika saya akan berangkat kuliah dengan motor butut saya, saat - saat seperti itu yang akan saya rindukan, akan sangat saya rindukan...
do'anya yang begitu panjang, masih dapat saya ingat dengan jelas
senyumnya
candanya, itu yang membuat saya rindu...
saya akan benar - benar merasa kehilangan moment pagi hari
saya akan merasa kehilangan moment medicure..heheh...
:D
kuku - kuku ditangannya yang keriput itu, saya yang rawat...hingga beliau jatuh sakit, saya rindu memotong kuku - kukunya...
nenek adalah lahan ibadah yang sangat besar, memotong kuku, menjadi body guard-nya ketika jalan, bahkan hanya untuk sekedar membenarkan kain sampingnya yang kusut...

please forgive me nek...saya belum bisa memberikan yang terbaik buat Nenek...
saya takut kehilangan magnet saat lebaran, nenek adalah magnet untuk setiap penjuru kota, semua sodara...

Sabtu, 18 Februari 2012

teach???


"mau ga jadi guru sukwan di SMP?"
pertanyaan dadakan yang babeh lontarkan malam ini, di kasur saya...
saya berpikir sejenak, (*berpikir bukan berarti mempertimbangkan iya apa ga, tapi ga ngerti maksud sukwan tu apa...jhhhahahahaha)
"sukwan apaan?"

"sukarelawan atau honorer"
"GA!!!" tanpa pikir panjang
"kenapa???"
babeh sedikit bingung,
"ya beda, konsentrasi saya bukan di keguruan, jadi ga bisa!"
to be teacher??? masih jauh di pikiran saya...
dan ga ada di plan maping hidup saya

mungkin guru adalah pekerjaan yang begitu mulia, tapi jangan salah tanggung jawabnya GEDE banget!!! dan itu berat...
hhmmm
mungkin kebanyakan orang tua akan bangga ketika anaknya berada di depan anak didiknya, mendidik, kemudian berpakaian rapih, berwarna coklat muda khas khas PNS khusus guru..
jadi guru muda, hidup tenang dengan gaji yang di pas...

atau mungkin itu pemikiran orang tua dahulu, atau mungkin itu pemikiran jaman purba...
tapi ortu saya khususnya babeh saya berpikiran demikian.

hah?

apakah ortu saya lahir di jaman purba?
:D
jelas tidak!

dilihat dari anaknya yang sangat ganteng kaya Nicholas Saputra ini, jauh kemungkinan babeh saya lahir di jaman purba, keberadaan saya jelas-jelas membuktikan itu.

hhmmm bagi saya PNS adalah jalan terakhir yang benar-benar terakhir bagi karir saya...
dan saya akan berusaha untuk tidak memakai jalan terakhir itu.

Rabu, 15 Februari 2012

cocolate and my dream


so great...
banyak pengalaman yang ga pernah saya share di sini kawan..jika waktu saya bikin blog ini masih mahasiswa tingkat satu...jreng jreng...sekarang saya udah masuk semester 6...
:)

tinggal 1 semester lagi,karena kebetulan saya mengikuti program 7 semester untuk selesai S1 saya...
zaman dahulu kala, (*kaya cerita dongeng ya?) dulu banget ketika saya ga ngerti apa itu blog, berarti pas umur saya 14 - 15 tahunan lah...beda ma anak-anak sekarang 12 tahun aja udah punya blog...bahkan friendster aja lom booming...(*ga tahu belum booming ga tahu belum dibikin)hehe...
mamah tanya ke saya,
"udah gede mau jadi apa??" (*bayangin backsoundnya tu lagu susan yang liriknya kaya gini...'susan,susan,susan udah gede mau jadi apa? biar kena...)
dan saya bilang,
"dulu ade pengen jadi dokter, tapi ade takut mayat, jadi mending jadi pilot aja mah"
mamah senyum dong....gila anaknya mo jadi pilot...
trus saya makan coklat banyak banget, mamah marah
"ade jangan makan coklat terus, entar giginya berlubang, pilot itu ga boleh giginya berlubang... coklat itu musuhnya pilot!!!"
saya kepikiran terus kata-kata mamah...
suatu saat pas karnaval di kota saya, saya kebagian pake baju pilot, saya nangis ga mau pake seragam itu
"kenapa ga mau pake? ade kan pengen jadi pilot?"
"ade ga mau dimusuhin coklat mamah..."

Sabtu, 10 Juli 2010

...u always in my hearth...


...tuhan beri kita berbagai kesempatan, bahkan sesuatu yang tak pernah terbayang, tuhan beri kita cobaan bahkan sesuatu hal yang tidak pernah kita inginkan, tuhan beri segala yang kita mau, bahkan sesuatu yang tak pernah di sangka, terimaksih tuhan atas segala rahmatmu...



...hmmm...ada kalanya dalam hidup dan kehidupan, kita menganggap semuanya mudah, kita menganggap semuanya indah, tanpa kita sadari bahwa kemudahan dan keindahan memiliki pasangan yaitu kesulitan dan keburukan. Hidup memang tidak susah kawan, karena itulah kenapa tuhan menciptakan solusi, hidup memang penuh masalah, karena itulah kenapa tuhan menciptakan jalan keluarnya, hidup memang melelahkan, karena itulah kenapa tuhan menciptakan istirahat bagi kita. semua kemudahan yang tuhan berikan, tidak dengan mudah kita dapatkan oleh karena itulah tuhan menciptakan berjuang, oleh karena itulah tuhan menciptakan pemenang, dan pemenang tidak akan menjadi pemenang tanpa ada orang yang kalah. oleh karena itulah tuhan menciptakan berlapang dada, agar kita tahu arti kalah. dan bagi si pemenang tuhan ciptakan rendah hati agar kesombongan mendapatkan pasangan.
...Tuhan kenapa kau begitu baik, Tuhan kenapa kau begitu sayang...kau ciptakan yang tak pernah akui mau, kau beri yang tak pernah aku inginkan, bahkan kau lenyapkan inginku dan mauku, karena kau tahu, apa, bagaimana, dan seperti apa seharusnya akui. kau beri yang terbaik dalam hidup akui, tanpa aku minta.


...thank's to Alloh SWT, u always in my hearth...