Pagi yang
keramat. Begitu aku menyimpulkan pagi ini. Mungkin berlebihan, tapi begitulah
adanya. Tiga tahun silam aku hanya bagian dari keramaian ini, bahkan aku
mengkritisi banyak hal dari kejadian
ini. Aku bilang pada diriku sendiri, tak tahukah mereka yang berjubah itu,
jubah itu adalah butiran keringat sang tua yang menjadi renta. Jubah itu adalah
percikan pengorbanan dan kerja keras sang renta yang mungkin besok lusa wafat.
Tak tahukah bahwa keramaian ini adalah bagian dari harapan sang pengantar emas yang
telah di tempa. Tidak berlebihan jika aku bilang yang berjubah itu adalah emas
yang telah di tempa. Karena harusnya memang seperti itu.
Pagi yang
keramat. Di pagi ini, aku bangun lebih awal. Tidak hanya aku, yang tidur di
samping kamarku, yang tidur di samping kamar yang tidur disamping kamarku.
Bahkan orang-orang yang tidur di atap yang berbeda di samping rumahku, bangun
lebih awal di pagi yang keramat ini. Pagi yang keramat ini telah kami
tunggu-tunggu. Berbulan – bulan abangku tak pulang kampung, hanya demi hari
ini. Perempuan yang selalu ada di hatiku telah merindukan abangku sejak lama,
terlebih pada cucu nya. Cucunya yang nakal tidak kepalang. Si kecil yang
atraktif. Dan aku bangga memiliki bibit-bibit masa depan yang beragam. Ponakan
– ponakanku yang unik.
Kembali pada
pagi yang keramat, semuanya di pagi ini berkumpul. Abang kandungku, abang
iparku, bahkan kakak tertua dari kedua orang tuaku. Semua berkumpul di rumahku
pagi ini. Ya...pagi yang keramat. Ini benar-benar keramat, ini adalah pertama kalinya
kedua orang tuaku duduk berdampingan menyaksikan aku yang memakai jubah hasil
dari keringat mereka. Aku tidak bisa berkata – kata. Aku bahagia, bahagia yang
terlalu.
“YUDI
SEPTRIPRIYADI SUNARYA yudisium dengan PUJIAN”
Kalimat itu yang
pertama kali orang tuaku tanyakan,
“apa itu artinya
de?” aku tersenyum.
Mataku
berlinang. Aku sadar bukan kalimat itu yang akan membuat kedua orang tuaku
bangga, karena mereka tidak tahu sama sekali apa maksud dari kalimat itu. Dalam
hati aku berkata, “Tuhan telah memuji kalian karena sanggup membesarkanku” Itu
artinya.
Berbahagialah
kalian yang memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan tinggi, karena aku
saja yang orang tuaku tidak tahu arti kalimat itu sangat bahagia.
Dan lihatlah
diri kalian, bukan atas dasar apa yang telah kalian capai, tapi apa yang
membuat kalian bisa mencapai semua itu. Tuhan menitipkan aku pada mereka bukan
tanpa alasan.
Tuhan menitipkan aku pada mereka bukan tanpa alasan
BalasHapusawesome!!!