Rabu, 24 Juli 2013

PAGI YANG KERAMAT

Pagi yang keramat. Begitu aku menyimpulkan pagi ini. Mungkin berlebihan, tapi begitulah adanya. Tiga tahun silam aku hanya bagian dari keramaian ini, bahkan aku mengkritisi banyak hal dari  kejadian ini. Aku bilang pada diriku sendiri, tak tahukah mereka yang berjubah itu, jubah itu adalah butiran keringat sang tua yang menjadi renta. Jubah itu adalah percikan pengorbanan dan kerja keras sang renta yang mungkin besok lusa wafat. Tak tahukah bahwa keramaian ini adalah bagian dari harapan sang pengantar emas yang telah di tempa. Tidak berlebihan jika aku bilang yang berjubah itu adalah emas yang telah di tempa. Karena harusnya memang seperti itu.
Pagi yang keramat. Di pagi ini, aku bangun lebih awal. Tidak hanya aku, yang tidur di samping kamarku, yang tidur di samping kamar yang tidur disamping kamarku. Bahkan orang-orang yang tidur di atap yang berbeda di samping rumahku, bangun lebih awal di pagi yang keramat ini. Pagi yang keramat ini telah kami tunggu-tunggu. Berbulan – bulan abangku tak pulang kampung, hanya demi hari ini. Perempuan yang selalu ada di hatiku telah merindukan abangku sejak lama, terlebih pada cucu nya. Cucunya yang nakal tidak kepalang. Si kecil yang atraktif. Dan aku bangga memiliki bibit-bibit masa depan yang beragam. Ponakan – ponakanku yang unik.
Kembali pada pagi yang keramat, semuanya di pagi ini berkumpul. Abang kandungku, abang iparku, bahkan kakak tertua dari kedua orang tuaku. Semua berkumpul di rumahku pagi ini. Ya...pagi yang keramat. Ini benar-benar keramat, ini adalah pertama kalinya kedua orang tuaku duduk berdampingan menyaksikan aku yang memakai jubah hasil dari keringat mereka. Aku tidak bisa berkata – kata. Aku bahagia, bahagia yang terlalu.
“YUDI SEPTRIPRIYADI SUNARYA yudisium dengan PUJIAN”
Kalimat itu yang pertama kali orang tuaku tanyakan,
“apa itu artinya de?” aku tersenyum.
Mataku berlinang. Aku sadar bukan kalimat itu yang akan membuat kedua orang tuaku bangga, karena mereka tidak tahu sama sekali apa maksud dari kalimat itu. Dalam hati aku berkata, “Tuhan telah memuji kalian karena sanggup membesarkanku” Itu artinya.
Berbahagialah kalian yang memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan tinggi, karena aku saja yang orang tuaku tidak tahu arti kalimat itu sangat bahagia.
Dan lihatlah diri kalian, bukan atas dasar apa yang telah kalian capai, tapi apa yang membuat kalian bisa mencapai semua itu. Tuhan menitipkan aku pada mereka bukan tanpa alasan.

1 komentar:

  1. Tuhan menitipkan aku pada mereka bukan tanpa alasan
    awesome!!!

    BalasHapus

...mari saling berbagi, dan mengkoreksi...